Tren Ekbis

Ulas Strategi Agar UMKM Tumbuh Pesat Saat Ramadan

  • Ramadan jadi momentum lonjakan konsumsi. UMKM perlu strategi digital, stok adaptif, dan promosi kreatif agar omzet naik signifikan.
1.Ilustrasi-strategi-bisnis.webp
Strategi UMKM (Top Coach Indonesia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Bulan puasa selalu menjadi momentum emas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Lonjakan konsumsi rumah tangga selama periode puasa hingga Lebaran membuka peluang peningkatan omzet, terutama di sektor makanan, fesyen, dan kebutuhan rumah tangga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh sebesar 5,11% secara tahunan pada kuartal IV 2025. Data ini mengungkap bagaimana belanja masyarakat tetap kuat meskipun kondisi global penuh tantangan, dan memberi kaca pembesar terhadap pola perilaku belanja generasi muda.

Setiap Ramadan dan Idulfitri, pola belanja masyarakat cenderung meningkat, terutama untuk makanan-minuman, pakaian, serta transportasi. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) juga mencatat terjadi peningkatan transaksi ekonomi dan keuangan digital selama Ramadan, seiring maraknya promo e-commerce dan pembayaran nontunai.

Pada tahun 2022, transaksi non tunai melalui BI-FAST mengalami peningkatan. Nominal transaksi BI-FAST bulan April 2022 tumbuh sebesar 51,88% (mtm), mencapai Rp100,25 triliun dan secara volume tumbuh 32,72% (mtm), mencapai 24,55 juta transaksi. Nominal transaksi tertinggi terjadi pada H-7 Idulfitri sebesar Rp5,93 triliun dengan volume sebanyak 1,28 juta transaksi.

Melihat tren tersebut, UMKM perlu strategi yang tepat agar tidak sekadar kebagian lonjakan permintaan sesaat, tetapi juga mampu membangun pertumbuhan berkelanjutan. Adapun strategi yang perlu dilakukan oleh UMKM selama bulan Ramadan yaitu:

1. Adaptasi Produk Sesuai Tren Ramadan

Tren produk yang naik daun saat Ramadan. Sumber: Chocolate Monggo

Produk makanan takjil, hampers, katering sahur, hingga busana muslim biasanya mengalami kenaikan permintaan signifikan. Dalam hal ini, pelaku UMKM perlu memetakan tren yang sedang diminati melalui media sosial dan marketplace. Selain itu, cobalah berinovasi melalui kemasan yang lebih menarik dan praktis untuk meningkatkan daya tarik produk.

2. Optimalkan Digital Marketing

Perilaku belanja masyarakat kini didominasi melalui media daring. Para pelaku UMKM perlu memaksimalkan promosi melalui media sosial, seperti live shopping, hingga kolaborasi dengan kreator konten lokal. Momentum promo Ramadan seperti flash sale atau diskon bundling bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan volume penjualan.

Selain itu, cobalah untuk mengoptimalkan metode pembayaran yang paling banyak digunakan oleh masyarakat seperti QRIS maupun cash. Hal ini perlu dilakukan agar proses jual beli lebih cepat dan efisien.

3. Kelola Arus Kas Secara Ketat

Ilustrasi mengelola arus kas. Sumber: iStock

Meski omzet meningkat, pengeluaran operasional juga cenderung naik, mulai dari biaya bahan baku hingga tenaga tambahan. Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu mengatur arus kas dengan disiplin, memisahkan dana operasional dan keuntungan, serta menghindari ekspansi berlebihan tanpa perhitungan.

4. Manfaatkan Kolaborasi dan Komunitas

Kolaborasi antar-UMKM dalam bentuk paket bundling produk atau promosi bersama dapat memperluas jangkauan pasar. Selain itu, memanfaatkan program pembinaan dari pemerintah daerah maupun lembaga keuangan dapat membantu meningkatkan kapasitas usaha.

5. Bangun Loyalitas Pelanggan

Membangun loyalitas bersama pelanggan. Sumber: Kassen

Ramadan bisa menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pelanggan baru. Namun, keberlanjutan bisnis ditentukan oleh loyalitas pasca Lebaran. Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu menjaga kualitas produk dan layanan agar konsumen kembali bertransaksi di luar musim puncak.

Ramadan bukan sekadar periode lonjakan penjualan musiman, melainkan peluang memperkuat fondasi usaha. Dengan strategi adaptif berbasis data konsumsi dan tren digital, UMKM berpotensi meningkatkan omzet sekaligus memperluas pasar secara berkelanjutan.