Tren Ekbis

Ujian Bisnis Logistik 2026: Regulasi, ESG dan AI

  • Industri logistik 2026 menghadapi tekanan regulasi, kenaikan ongkir, tuntutan ESG, dan kesiapan AI yang belum merata di berbagai negara.
Ilustrasi jasa pengiriman logistik Anteraja, TIKI, JNE, J&T, Sicepat, Lion Parcel, POS Indonesia, yang makin moncer saat booming e-commerce. Ilustrasi: Deva Satria/TrenAsia
Ilustrasi jasa pengiriman logistik Anteraja, TIKI, JNE, J&T, Sicepat, Lion Parcel, POS Indonesia, yang makin moncer saat booming e-commerce. Ilustrasi: Deva Satria/TrenAsia (Trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Industri logistik dan e-commerce global memasuki 2026 dalam kondisi yang semakin kompleks. Jika pada masa pandemi sektor ini menikmati lonjakan permintaan, kini pelaku usaha dihadapkan pada tekanan baru yang lebih struktural, mulai dari perubahan regulasi lintas negara, kenaikan biaya pengiriman yang tersembunyi, hingga tuntutan keberlanjutan dan kesiapan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Logistik tak lagi sekadar fungsi pendukung di belakang layar. Sektor ini telah menjadi faktor penentu daya saing dan margin keuntungan bisnis digital. Salah satu tekanan terbesar datang dari perubahan kebijakan perdagangan internasional.

Menurut laporan media Spanyol, Cadena de Suministro, Uni Eropa misalnya, mulai Juli 2026 akan memberlakukan tarif minimum 3 euro untuk impor barang bernilai rendah di bawah 150 euro. Kebijakan ini menjadi bagian dari reformasi bea cukai yang lebih ketat, sekaligus menekan model bisnis e-commerce berbasis volume tinggi dan harga murah.

Beberapa negara anggota bahkan menambahkan biaya pemrosesan tambahan hingga 5 euro per pengiriman. Dampaknya signifikan: margin keuntungan penjual lintas batas tergerus, harga produk meningkat, dan daya saing menurun.

Dikutip Yahoo Finance, di Amerika Serikat sendiri, batas de minimis nilai barang yang bebas bea masuk yang saat ini berada di level 800 dolar AS berpotensi diturunkan menjadi 200–500 dolar AS. Jika terealisasi, perubahan ini akan memukul eksportir kecil dan penjual internasional yang mengandalkan ambang batas tersebut untuk tetap kompetitif.

Tak hanya soal tarif, perusahaan juga dihadapkan pada kewajiban pelaporan keberlanjutan (ESG) yang semakin ketat. Transparansi emisi karbon, penggunaan bahan kemasan, hingga jejak rantai pasok kini menjadi bagian dari kepatuhan regulasi. Hal ini meningkatkan beban administrasi dan biaya operasional.

Ledakan Biaya Pengiriman

Di sisi lain, biaya pengiriman terus membengkak. Raksasa logistik seperti UPS dan FedEx mengumumkan kenaikan tarif umum (General Rate Increase/GRI) sekitar 5,9 persen. Namun, dampak riil di lapangan kerap jauh lebih tinggi, bisa mencapai 10–20 persen akibat akumulasi berbagai biaya tambahan atau surcharges.

Masih dilansir Yahoo Finance, beberapa komponen biaya tersembunyi yang menjadi “pembunuh margin” antara lain, biaya dimensi (DIM weight), di mana ongkos dihitung berdasarkan volume paket, bukan hanya beratnya. Kemasan yang terlalu besar berarti biaya lebih mahal.

Kedua, biaya penanganan khusus untuk paket berbentuk tidak standar, yang bisa mencapai 15–30 dolar AS per paket. Ketiga biaya koreksi alamat, yang dapat membebani penjual hingga 10–15 dolar AS per kesalahan input.

Kenaikan biaya ini memaksa pelaku usaha untuk mengevaluasi ulang strategi kemasan, negosiasi kontrak logistik, hingga struktur harga produk.

Di tengah biaya yang meningkat, ekspektasi pelanggan justru makin tinggi. Konsumen kini menginginkan pengiriman cepat, fleksibel, transparan, dan murah sebuah kombinasi yang sulit diwujudkan tanpa menekan margin.

Strategi quick commerce atau pengiriman instan memang meningkatkan kepuasan pelanggan, tetapi tidak selalu efisien, terutama untuk produk bernilai rendah. Perusahaan harus menyeimbangkan kecepatan, biaya, dan keandalan layanan.

Pasar logistik juga semakin terfragmentasi. Banyak perusahaan menggunakan penyedia layanan berbeda untuk estimasi waktu pengiriman, pelacakan, manajemen retur, dan pembayaran. Tanpa sistem integrasi yang kuat, pengalaman pelanggan menjadi tidak konsisten.

Kondisi ini memunculkan fenomena “fulfillment fatigue”. Banyak tim e-commerce masih mengandalkan spreadsheet atau integrasi parsial untuk mengelola penjualan lintas marketplace. Akibatnya, ketidakakuratan stok dan keterlambatan pengiriman sering terjadi.

Data menunjukkan sekitar 22 persen pengambil keputusan e-commerce menganggap tantangan logistik sebagai hambatan utama untuk ekspansi ke marketplace baru.

Tantangan Implementasi ESG dan AI

Meski teknologi menawarkan solusi, implementasinya tidak mudah. Tahun 2026 diprediksi menjadi fase “AI enablement”, bukan transformasi penuh. Banyak perusahaan masih berkutat dengan sistem lama (legacy systems) dan kualitas data yang tidak konsisten.

Tanpa fondasi data yang bersih dan terintegrasi, potensi AI untuk optimalisasi rute, prediksi permintaan, dan manajemen inventori tidak dapat dimaksimalkan.

Di sisi lain, adopsi teknologi seperti robot pergudangan, perangkat lunak routing dinamis, atau platform manajemen pengiriman terpadu membutuhkan investasi besar dan proses integrasi yang kompleks.

Tekanan untuk menjadi lebih ramah lingkungan menyesuaikan konsep i Environmental, Social, and Governance (ESG) menambah lapisan tantangan baru. Inefisiensi seperti kemasan berlebihan dan perhitungan volume yang tidak akurat membuat rantai pasok “mengangkut lebih banyak udara daripada produk”. Selain meningkatkan biaya, praktik ini memperbesar jejak karbon.

Transisi ke kendaraan listrik untuk pengiriman last-mile dan penggunaan material kemasan daur ulang juga membutuhkan investasi awal yang tinggi. Namun, langkah ini menjadi hampir tak terhindarkan mengingat regulasi ESG dan preferensi konsumen yang semakin sadar lingkungan. Perusahaan menghadapi dilema klasik, biaya jangka pendek versus keberlanjutan jangka panjang.

Baca juga : Saham ESG vs Konvensional: Mana yang Lebih Unggul?

Seluruh dinamika tersebut menunjukkan bahwa logistik bukan lagi fungsi operasional sekunder. Ia telah menjadi medan pertempuran utama dalam persaingan e-commerce global.

Perusahaan yang mampu menavigasi regulasi lintas negara, mengendalikan biaya tersembunyi, membangun sistem operasional terintegrasi, serta berinvestasi dalam teknologi dan keberlanjutan, akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.

Sebaliknya, pelaku usaha yang lambat beradaptasi berisiko terjebak dalam spiral biaya tinggi dan margin tipis. Di tahun 2026, kesuksesan e-commerce tidak hanya ditentukan oleh strategi pemasaran atau inovasi produk, tetapi juga oleh seberapa tangguh dan cerdas sistem logistik di belakangnya.