Tren Take Over KPR Menguat, Kuasai 60 Persen Pasar
- Kenaikan BI Rate mendorong masyarakat beralih ke rumah seken dan Take Over KPR. Simak tren terbaru pasar properti Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75% mulai mengubah cara masyarakat membeli rumah. Di tengah biaya hidup yang meningkat dan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang berpotensi lebih mahal, konsumen kini semakin selektif memilih hunian dan skema pembiayaan.
Temuan Pinhome Indonesia Residential Property Market Report Semester I 2026 menunjukkan pasar properti residensial memang masih bertahan di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
Namun, niat membeli rumah mulai melambat seiring masyarakat yang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Salah satu perubahan yang terlihat adalah meningkatnya minat terhadap rumah seken siap huni.
Di tengah kenaikan biaya konstruksi yang membuat harga rumah baru semakin tinggi, konsumen mulai mempertimbangkan rumah bekas sebagai alternatif yang lebih efisien.
Selain itu, kenaikan biaya pembangunan juga mendorong pengembang mengalihkan fokus pada pembangunan rumah berukuran lebih kecil agar tetap sesuai dengan daya beli masyarakat.
Baca juga : Pohon Bisnis Hashim Djojohadikusumo: Dari Energi hingga Kripto
Dari sisi pasokan, total inventori rumah tapak secara nasional masih tumbuh 5% pada Semester I 2026 dibandingkan semester sebelumnya. Namun, Pinhome memperkirakan jumlah listing rumah akan terus meningkat seiring gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), kenaikan biaya hidup, serta meningkatnya urgensi pemilik untuk menjual properti.
Meski demikian, minat masyarakat terhadap kepemilikan rumah belum surut. Aktivitas pencarian rumah masih mencatat pertumbuhan rata-rata 13% per bulan sepanjang Semester I 2026, meski calon pembeli kini lebih selektif sebelum mengambil keputusan.
Konsumen Beralih ke Take Over KPR
Kenaikan BI Rate juga mengubah preferensi masyarakat dalam memilih pembiayaan rumah. CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengatakan perubahan arah kebijakan suku bunga tidak membuat pasar properti melemah, melainkan mendorong konsumen mencari solusi pembiayaan yang lebih sesuai dengan kondisi ekonomi.
"Perubahan arah kebijakan suku bunga mendorong masyarakat untuk semakin selektif dalam memilih skema pembiayaan rumah. Di tengah kondisi tersebut, kami melihat pasar tidak melemah, melainkan beradaptasi," ujar Dayu dalam acara Pinhome : Indonesia Recidential Market, di Jakarta, 30 jULI 2026.
Menurut dia, perubahan perilaku tersebut tercermin dari meningkatnya aktivitas Take Over KPR, yakni pemindahan fasilitas KPR dari satu bank ke bank lain untuk memperoleh suku bunga atau skema cicilan yang lebih kompetitif.
"Hal ini tercermin dari data Pinhome yang menunjukkan meningkatnya aktivitas Take Over KPR yang kini mendominasi sekitar 60% pasar KPR." tambah Dayu.
Sementara itu, permintaan KPR komersial masih didominasi pembeli rumah di segmen harga Rp300 juta hingga Rp1 miliar dengan kontribusi sekitar 49%. Adapun rumah dengan harga di bawah Rp300 juta menyumbang sekitar 21% dari total permintaan KPR komersial.
Baca juga : Bongkar Kinerja MLPT, Sempat ARA Berjilid Usai Stock Split
Dayu menilai data tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat untuk memiliki rumah masih tetap tinggi meski kondisi ekonomi menantang. "Ini menunjukkan bahwa kebutuhan memiliki hunian tetap tinggi, sementara konsumen semakin aktif mencari solusi pembiayaan yang paling sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini," katanya.
Laporan Pinhome menunjukkan rumah seken kini semakin menarik bagi konsumen karena menawarkan harga yang relatif lebih kompetitif serta dapat langsung dihuni tanpa harus menunggu proses pembangunan.
Di tengah biaya konstruksi yang meningkat dan suku bunga yang lebih tinggi, rumah seken menjadi salah satu opsi bagi masyarakat yang ingin memiliki hunian dengan biaya awal yang lebih efisien.
Tren ini juga berjalan seiring meningkatnya penggunaan Take Over KPR, yang memberi peluang kepada pembeli untuk memperoleh skema pembiayaan yang lebih ringan dibandingkan mengajukan kredit baru.
Dengan kata lain, kombinasi rumah seken siap huni dan Take Over KPR menjadi salah satu strategi yang mulai dipilih masyarakat untuk tetap dapat membeli rumah di tengah tantangan ekonomi dan tingginya biaya pembiayaan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
