Meneropong Keuangan Telkomsel Karena Terdampak Aturan Harga Portofolio Saham
- Nilai investasi Telkomsel di perusahaan teknologi menghadapi tekanan. Aturan baru soal harga saham, apakah ini bisa pengaruhi keuangan?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Telkomsel diketahui memiliki sekitar 23,72 miliar saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan harga perolehan rata-rata sekitar Rp270 per saham. Dimana harga saham perseroan yang masih berada di level Rp50 atau gocap.
Kondisi dinilai membuat nilai investasi Telkomsel di perusahaan teknologi tersebut berpotensi menghadapi tekanan secara mark-to-market. Dengan harga GOTO berada di level Rp50, secara sederhana terdapat selisih sekitar Rp220 per saham dari harga perolehan.
Jika seluruh selisih tersebut dikalikan dengan jumlah saham yang dimiliki, potensi tekanan nilai investasi atau floating loss Telkomsel menjadi cukup tinggi.
Besarnya potensi mark-to-market loss Telkomsel sangat bergantung pada harga saham GOTO di pasar. Artinya, semakin rendah harga saham GOTO, semakin besar pula selisih antara harga perolehan Telkomsel dan nilai pasar saham yang dimilikinya.
Skenario harga Rp20 menjadi perhatian setelah munculnya rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengubah batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan tersebut berpotensi membuat saham yang selama ini tertahan di level gocap memiliki ruang perdagangan yang jauh lebih rendah.
Baca juga : Mengenal Ekonomi Biru Indonesia dan Potensinya
Perbedaan Pembukuan
Meski perhitungan sederhana menunjukkan potensi floating loss lebih dari Rp5 triliun, angka tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan kerugian yang telah dibukukan Telkomsel dalam laporan keuangan.
Pasalnya, terdapat perbedaan antara kerugian berdasarkan harga perolehan (economic/mark-to-market loss) dengan kerugian yang diakui dalam laporan keuangan.
Potensi kerugian sebesar Rp5,22 triliun pada harga GOTO Rp50 merupakan gambaran selisih antara harga perolehan rata-rata sekitar Rp270 dengan harga pasar Rp50, dikalikan jumlah saham Telkomsel.
Sementara itu, laporan keuangan mencerminkan perubahan nilai investasi berdasarkan periode pelaporan dan metode akuntansi yang digunakan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian Telkomsel per 30 Juni 2026, nilai wajar investasi Telkomsel di GOTO tercatat menggunakan harga Rp50 per saham. Telkomsel juga mencatat kerugian belum terealisasi sebesar sekitar Rp322 miliar.
Angka tersebut tidak sama dengan perhitungan floating loss Rp5,22 triliun karena keduanya menggunakan basis perhitungan yang berbeda.
Sebagai perbandingan, pada 31 Desember 2025, nilai wajar saham GOTO yang digunakan Telkomsel berada di level Rp64 per saham, sementara pada 31 Desember 2024 berada di level Rp70 per saham.
Kerugian belum terealisasi yang dicatat Telkomsel masing-masing sekitar Rp142 miliar pada 2025 dan Rp380 miliar pada 2024.
Baca juga : Profil Toto Sugiri: 'Bill Gates' RI, Pionir Data Center Nasional
Apa Itu Floating Loss Telkomsel?
Floating loss atau paper loss merupakan kerugian yang muncul akibat penurunan nilai pasar suatu aset yang masih dimiliki investor.
Dalam kasus Telkomsel, selama saham GOTO belum dijual, penurunan harga saham tersebut belum berarti Telkomsel telah menerima kerugian kas sebesar Rp5,22 triliun.
Sebagai contoh, jika Telkomsel membeli saham pada harga rata-rata Rp270 dan kemudian harga pasar turun menjadi Rp50, secara nilai pasar kepemilikannya memang jauh lebih rendah dibandingkan harga perolehan.
Namun, kerugian tersebut baru terealisasi apabila saham benar-benar dijual pada harga yang lebih rendah dari harga perolehan. Karena itu, istilah yang lebih tepat untuk perhitungan Rp5,22 triliun tersebut adalah potensi kerugian nilai riil atau floating loss, bukan kerugian kas yang sudah direalisasikan.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, sebelumnya juga menekankan bahwa perhitungan kerugian triliunan rupiah tersebut merupakan estimasi berdasarkan harga perolehan dan jumlah saham, bukan berarti seluruh kerugian tersebut telah direalisasikan oleh Telkomsel.
Baca juga : Grup Djarum Caplok Narasi, Bisnis Media Masih Seksi?
Rencana BEI menurunkan batas minimum harga saham menjadi Rp1 menimbulkan potensi risiko penurunan harga GOTO menjadi semakin relevan untuk diperhatikan.
Meski demikian, perhitungan tersebut tidak berarti Telkomsel akan langsung membukukan kerugian sebesar angka tersebut. Besaran kerugian yang akhirnya tercatat akan bergantung pada metode akuntansi, perubahan nilai wajar, periode pelaporan, serta apakah Telkomsel merealisasikan investasinya melalui penjualan saham.

Muhammad Imam Hatami
Editor
