Strategi Nescafe Kuasai Bisnis Kopi Pinggir Jalan, Buka 500 Gerai di 89 Kota
- Strategi NESCAFÉ masuk bisnis kopi pinggir jalan mengandalkan harga Rp5.000-Rp10.000, lokasi strategis, konsep pop-up, dan kendali kualitas.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Nestlé melalui merek NESCAFÉ memperluas bisnis kopi siap minum di Indonesia dengan mengembangkan konsep gerai kopi pinggir jalan. Strategi tersebut menggabungkan harga terjangkau, pemilihan lokasi, inovasi menu, hingga pengendalian kualitas untuk menjangkau konsumen secara lebih dekat.
Konsep gerai NESCAFÉ mulai diluncurkan pada Januari 2025. Dalam waktu relatif singkat, jaringan tersebut telah berkembang menjadi lebih dari 500 gerai yang tersebar di 89 kota di Indonesia.
Ekspansi tersebut tidak dilakukan dengan model waralaba. NESCAFÉ memilih sistem operasi yang dikendalikan secara terpusat dengan menggandeng PT Ansena sebagai mitra operasional.
Membaca Besarnya Pasar Kopi Indonesia
Salah satu dasar strategi NESCAFÉ adalah melihat besarnya potensi konsumsi kopi di Indonesia. Data yang digunakan perusahaan menunjukkan sekitar 79% penduduk Indonesia merupakan konsumen kopi. Sebagian besar di antaranya mengonsumsi kopi secara rutin.
Kelompok generasi muda juga menjadi sasaran penting. Sebanyak 31% Generasi Z mengaku mengonsumsi kopi satu hingga dua kali sehari. Bahkan, sekitar satu dari lima konsumen dalam kelompok tersebut bersedia mengeluarkan Rp25.000 hingga Rp50.000 untuk satu gelas kopi.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya ruang bagi produk kopi siap minum yang menawarkan kemudahan, harga terjangkau, dan cita rasa yang sesuai dengan preferensi konsumen.
Baca juga : 7 Tantangan di Awal Kepemimpinan Gubernur BI Destry Damayanti
"Kedai NESCAFÉ dirancang untuk hadir di titik-titik yang dekat dengan keseharian lebihmasyarakat, sehingga para pecinta kopi dapat mudah menikmati kopi berkualitas, namun tetap terjangkau, kapan pun mereka mau", jelas Country Business Manager Nestlé Professional Indonesia, Mochamad Machfud, saat acara peluncuran Kedai Nescafe di Sarinah pada Kamis, 14 Agustus 2025.
NESCAFÉ kemudian tidak hanya mengandalkan penjualan produk kopi dalam kemasan, tetapi menghadirkan produknya langsung melalui gerai.
Strategi NESCAFÉ tidak hanya berkaitan dengan produk, tetapi juga lokasi. Gerai ditempatkan di kawasan pinggir jalan dengan tingkat lalu lintas yang tinggi. Target utamanya adalah konsumen yang memiliki mobilitas tinggi atau on-the-go person.
Konsep tersebut membuat konsumen dapat membeli kopi tanpa harus menghabiskan waktu lama seperti ketika berkunjung ke kafe.
Dalam menentukan lokasi, NESCAFÉ menggunakan pendekatan territory mapping. Pemetaan wilayah dilakukan untuk mencari lokasi dengan potensi lalu lintas dan visibilitas yang tinggi.
Menariknya, ekspansi tidak hanya berfokus pada kota metropolitan. NESCAFÉ juga menyasar kota tingkat dua dan tiga seperti Solo, Kudus, Banyumas dan Pekalongan.
Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menjangkau konsumen di luar pasar kota-kota besar yang telah memiliki persaingan bisnis kopi cukup ketat.
Berbeda dengan bisnis kedai kopi konvensional yang membutuhkan bangunan permanen, NESCAFÉ menggunakan konsep pop-up store atau booth. Konsep ini memungkinkan gerai dibangun dengan format yang lebih sederhana sehingga perusahaan dapat melakukan ekspansi secara lebih fleksibel.
Model tersebut juga sesuai dengan karakter konsumen yang menjadi target NESCAFÉ, yakni masyarakat yang membutuhkan kopi secara cepat untuk dikonsumsi ketika beraktivitas.
Konsep gerai juga menyesuaikan perubahan preferensi konsumen. Sekitar 95% pilihan konsumen NESCAFÉ disebut merupakan minuman kopi dingin. Karena itu, produk yang ditawarkan di gerai lebih banyak diarahkan pada minuman yang dapat langsung dikonsumsi dalam kondisi dingin.
Baca juga : Kronologi PGAS Dihukum Bayar Kompensasi pada Perusahaan Singapura
Harga Kopi Mulai Rp5.000
Harga menjadi salah satu strategi utama NESCAFÉ dalam memasuki pasar kopi pinggir jalan. Produk kopi ditawarkan dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 per gelas. Strategi tersebut menempatkan produk pada segmen kopi yang dapat dijangkau konsumen secara lebih luas.
Dengan harga tersebut, NESCAFÉ mencoba menghadirkan pengalaman minum kopi ala kafe tetapi dengan harga yang lebih dekat dengan daya beli konsumen massal.
Strategi harga juga memungkinkan konsumen membeli kopi secara lebih rutin tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar ketika membeli produk di kedai kopi premium.
Selain harga, NESCAFÉ menggunakan proses penyajian sebagai bagian dari pengalaman konsumen. Kopi diracik menggunakan shaker di hadapan pembeli. Proses tersebut bukan hanya berfungsi mencampurkan bahan minuman, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman visual ketika konsumen membeli produk.
Penggunaan metode tersebut ditujukan untuk menghasilkan minuman dengan tekstur yang konsisten, termasuk karakter creamy dan segar.
Konsep penyajian terbuka juga dapat meningkatkan daya tarik gerai karena konsumen dapat melihat langsung proses pembuatan minuman.
Baca juga : SMBC Indonesia Beri Diskon Tiket Andrea Bocelli hingga 20 Persen
Tidak Menggunakan Sistem Franchise
Salah satu keputusan bisnis yang membedakan strategi NESCAFÉ adalah tidak membuka bisnis tersebut melalui sistem waralaba atau kemitraan secara terbuka.
NESCAFÉ memilih model non-franchise untuk menjaga konsistensi produk dan standar operasional. Seluruh gerai dioperasikan oleh satu mitra, yaitu PT Ansena, yang disebut memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di industri makanan dan minuman.
Dengan model tersebut, NESCAFÉ dapat memiliki kontrol yang lebih besar terhadap standar produk, proses penyajian, bahan baku dan pengalaman konsumen.
Perusahaan bahkan disebut menerima ratusan permintaan kemitraan setiap bulan. Namun, permintaan tersebut tidak serta-merta dibuka menjadi skema franchise.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi jaringan tidak menjadi satu-satunya prioritas. Konsistensi kualitas produk juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan bisnis.
Strategi tersebut menghasilkan ekspansi yang cukup cepat. Sejak diluncurkan pada Januari 2025, NESCAFÉ telah memiliki lebih dari 500 gerai di 89 kota di Indonesia.
Pertumbuhan jaringan juga didukung eksposur media sosial. Sejumlah gerai NESCAFÉ menjadi perhatian pengguna Instagram dan TikTok sehingga menciptakan efek viral.
Antrean di sejumlah lokasi kemudian menjadi bagian dari fenomena tersebut. Konsumen tidak hanya membeli karena membutuhkan kopi, tetapi juga karena penasaran setelah melihat gerai dan produknya di media sosial.
Kondisi ini menunjukkan Jika strategi pemasaran NESCAFÉ tidak hanya mengandalkan iklan konvensional, tetapi juga memanfaatkan pengalaman konsumen sebagai bagian dari promosi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
