Smart Greenhouse di Bali Modernkan Pertanian Lokal
- Petani Bali Utara kini adopsi smart greenhouse berbasis teknologi digital. Sistem ini jaga efisiensi produksi, dan bisa jadi model pertanian masa depan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Petani di Bali Utara berhasil menerapkan smart greenhouse (SGH). SGH merupakan sebuah inovasi yang memadukan rumah kaca dengan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas panen. Program ini diprakarsai oleh Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) Kementerian Pertanian (Kementan).
Analis PSP Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Ida Putu Sandiasa, mengatakan bahwa teknologi SGH merupakan terobosan untuk membawa pertanian tradisional ke arah smart farming. Teknologi digital ini membantu petani mengatasi risiko gagal panen akibat perubahan cuaca dan memaksimalkan penggunaan pupuk dan air secara terukur.
“Alatnya sangat luar biasa, akan lebih efektif dan efisien dari segi proses produksi, penanaman bibit, pemupukan, dan panen. Ini akan menekan biaya produksi petani,” ujar Ida dalam keterangannya, dikutip Rabu, 4 Februari 2026.
Bagaimana Mekanisme Smart Greenhouse Bekerja?
Smart greenhouse merupakan rumah tanam yang dilengkapi sensor dan teknologi digital yang memungkinkan kontrol otomatis terhadap iklim mikro di dalamnya, termasuk suhu, kelembapan, intensitas cahaya, serta kebutuhan air dan nutrisi tanaman. Data dari sensor ini dapat dipantau dan dikendalikan melalui smartphone atau laptop, sehingga petani tidak perlu terus berada di lahan secara fisik.
Dalam SGH, pemasangan layar insect net mampu menjaga tanaman dari serangan hama, sementara sensor kelembapan dan suhu akan memicu pompa air atau sistem shading otomatis saat kondisi lingkungan berubah. Misalnya, saat intensitas cahaya terlalu tinggi di siang hari, roof fan shading akan menutup sebagian agar suhu tetap stabil dan tidak membakar tanaman.
Prinsip ini sejalan dengan implementasi smart greenhouse berbasis IoT (Internet of Things) yang diaplikasikan di berbagai daerah, sebagaimana teknologi ini memungkinkan pengaturan kelembapan, suhu, cahaya, dan nutrisi secara otomatis demi hasil panen yang lebih optimal, konsisten, dan berkelanjutan.
Manfaat dan Dampak ke Petani
Ketua Kelompok Tani Nyoman Mara Garden mengatakan bahwa SGH menjawab impian petani untuk memiliki kebun modern yang lebih efisien dan produktif. Dengan sistem ini, ancaman gagal panen akibat cuaca ekstrem berkurang, sehingga panen dapat lebih terprediksi.
“Dulu kami bekerja sebagai petani konvensional di lahan terbuka. Kini di SGH, tanaman terlindung dari hujan dan hama, sementara kebutuhan air dan cahaya diatur otomatis,” kata Nyoman, dikutip Selasa, 3 Februari 2026.
Teknologi ini bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendorong efisiensi biaya dan tenaga kerja, karena sistem dapat mengatur kebutuhan tanaman tanpa intervensi manual yang intensif.

Melansir dari Balai Besar Pengujian dan Modernisasi Sumber Daya Lahan Pertanian (BRMP SDLP) SGH menjadi solusi budidaya pertanian yang tidak bergantung musim melalui penerapan sistem Nutrient Film Technique (NFT) serta pot tanam. Teknologi ini dilengkapi pengendalian otomatis untuk mengatur suhu, kelembapan, nutrisi, dan kondisi cuaca, sehingga mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan penggunaan pestisida kimia.
Penerapan smart greenhouse di sejumlah lokasi menunjukkan hasil signifikan. Petani dilaporkan mampu meningkatkan pendapatan hingga 80% serta memperluas ragam komoditas yang dibudidayakan melalui sistem smart farming berbasis greenhouse dan indoor vertical farming yang lebih efisien.
Selain itu, teknologi smart farming memungkinkan pemantauan dan pengendalian tanaman secara daring, sehingga pengelolaan lahan menjadi lebih efektif. BRMP SDLP turut bekerja sama dengan berbagai pihak dalam pengembangan dan implementasi teknologi ini, termasuk penerapannya di BRMP Lingkungan Pertanian untuk mendukung sistem pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
