Tren Ekbis

Siapa Penguasa Bisnis Layanan Internet Indonesia? Ini Jawabannya

  • Telkomsel masih menjadi raja internet Indonesia. Simak kekuatan Telkomsel, Indosat, XLSMART dan persaingan internet rumah.
Akses internet stabil dukung layanan lembaga keuangan.
Akses internet stabil dukung layanan lembaga keuangan. (TrenAsia)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Peta persaingan industri telekomunikasi Indonesia semakin terkonsentrasi. Setelah merger XL Axiata dan Smartfren, pasar seluler nasional kini praktis diisi tiga kelompok operator besar, yakni Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), dan XLSMART.

Di sisi lain, bisnis internet rumah (fixed broadband) juga masih sangat terkonsentrasi. Telkomsel melalui IndiHome menjadi pemain terbesar dengan pangsa pasar yang jauh meninggalkan pesaingnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski Indonesia memiliki banyak penyedia jasa internet, infrastruktur dan pelanggan internet tetap banyak terkumpul pada segelintir perusahaan.

Lantas, siapa sebenarnya penguasa jaringan internet Indonesia dan seberapa besar kekuatan masing-masing pemain?

Telkomsel Masih Raja Internet Seluler Indonesia

Berdasarkan Survei Internet Indonesia 2025 yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Telkomsel dan mereknya seperti Simpati, byU, dan Halo digunakan oleh 45,79% responden.

Angka tersebut memang turun dibandingkan 2024 yang mencapai 47,71%. Namun, Telkomsel masih berada jauh di atas pesaingnya.

Di posisi kedua terdapat Indosat Ooredoo Hutchison bersama Tri dengan tingkat penggunaan 29,31%. Angka tersebut justru meningkat cukup signifikan dari 25,97% pada 2024.

Sementara itu, XL Axiata dan Axis tercatat digunakan oleh 19,75% responden, sedangkan Smartfren mencapai sekitar 5,15%.

Baca juga : WN China Selundupkan 22 Kg Emas, Segede Apa Tambang Ilegal RI?

Survei APJII tersebut dilakukan terhadap 8.700 responden berusia minimal 13 tahun yang tersebar di 38 provinsi. Pengumpulan data berlangsung pada 10 April hingga 16 Juli 2025 dengan metode wawancara tatap muka dan multistage random sampling.

Namun, ada satu perubahan besar yang perlu diperhatikan ketika membaca angka tersebut. Data APJII 2025 masih memisahkan XL Axiata/Axis dan Smartfren, karena survei dilakukan sebelum merger XL Axiata dan Smartfren efektif.

XL, Axis dan Smartfren Kini Berada di Bawah XLSMART

Pada tahun 2025, XL Axiata dan Smartfren resmi bergabung membentuk PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk.

XLSMART secara resmi berdiri setelah konsolidasi XL Axiata, Smartfren Telecom, dan Smart Telecom. Perusahaan tetap mempertahankan merek XL, AXIS, dan Smartfren untuk melayani pelanggan.

Dengan demikian, angka APJII sebesar 19,75% untuk XL Axiata/Axis dan sekitar 5,15% untuk Smartfren secara sederhana menunjukkan basis penggunaan yang jika digabung mencapai sekitar 24,9%.

Tetapi angka tersebut tidak boleh disebut sebagai pangsa pasar resmi XLSMART, karena berasal dari penggabungan dua kelompok jawaban dalam survei sebelum merger dan bukan laporan pangsa pasar perusahaan setelah merger.

Meski demikian, secara struktur industri, merger tersebut membuat persaingan operator seluler Indonesia semakin terkonsentrasi pada tiga kelompok besar. XLSMART sendiri menyatakan perusahaan hasil merger tersebut memiliki lebih dari 94,5 juta pelanggan ketika resmi berdiri pada April 2025.

Baca juga : Target Ekonomi 6 Persen pada 2027, Dari Mana Mesin Pertumbuhan RI?

Jadi, Siapa Penguasa Seluler RI?

Jika dilihat dari penggunaan operator berdasarkan survei APJII 2025, Telkomsel masih menjadi penguasa pasar. Telkomsel memiliki keunggulan sekitar 16,48 poin persentase dibandingkan Indosat Ooredoo Hutchison berdasarkan data survei tersebut.

Namun, posisi Indosat semakin kuat, penggunaan Indosat dan Tri meningkat dari 25,97% pada 2024 menjadi 29,31% pada 2025. Artinya, persaingan di posisi kedua dan ketiga menjadi semakin menarik setelah hadirnya XLSMART.

Dengan tiga kelompok besar tersebut, persaingan operator seluler tidak lagi hanya mengenai jumlah pelanggan. Operator harus berlomba dalam beragam sektor diantaranya,

  • perluasan jaringan 4G dan 5G;
  • harga paket internet;
  • kualitas dan stabilitas jaringan;
  • kapasitas jaringan;
  • layanan digital;
  • serta efisiensi biaya operasional.

Bagi konsumen, persaingan tersebut menjadi penting karena harga paket dan kualitas jaringan sangat menentukan pengalaman menggunakan internet.

Baca juga : BRI KKB National Expo Torehkan Rekor MURI

Bagaimana dengan Internet Rumah?

Jika pasar seluler dikuasai beberapa kelompok besar, pasar internet rumah (fixed broadband) bahkan lebih terkonsentrasi.

Laporan Opensignal November 2025 menunjukkan Telkomsel menjadi pemimpin pasar fixed broadband Indonesia dengan pangsa sekitar 67% melalui layanan IndiHome dan Orbit. Di bawahnya terdapat ICON+ sekitar 9%, MyRepublic sekitar 6,5%, sedangkan XLSMART memiliki lebih dari 6% pelanggan fixed broadband. Angka tersebut menunjukkan posisi IndiHome sangat kuat.

Menjadi pemimpin jumlah pelanggan tidak berarti otomatis menjadi operator dengan performa jaringan terbaik di semua indikator. Dalam laporan Opensignal April 2026, misalnya, XL Home memperoleh skor tertinggi untuk Reliability Experience di antara delapan ISP yang dianalisis. Indosat HiFi dan XL Home juga menunjukkan performa kuat dalam sejumlah indikator pengalaman pengguna.

Dengan kata lain, Telkomsel menguasai skala pasar, tetapi persaingan kualitas layanan internet rumah tetap terbuka.

Baca juga : Harga HP Makin Mahal, Memori dan AI Jadi Biang Kerok

Salah satu faktor penting telkomsel merajai sektor ini adalah sejarah dan luasnya jaringan Telkomsel. Di bisnis fixed broadband, Telkomsel menggabungkan basis IndiHome dengan layanan Orbit. Opensignal mencatat Telkomsel memiliki jangkauan dan cakupan populasi paling luas untuk layanan fixed broadband di Indonesia.

Hal tersebut memberikan keuntungan besar dalam menjangkau pelanggan di berbagai wilayah Indonesia. Faktor geografis juga membuat skala jaringan menjadi sangat penting. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan populasi tersebar di wilayah yang sangat luas.

Karena itu, membangun jaringan internet hingga daerah terpencil membutuhkan investasi besar. Data Opensignal menunjukkan penetrasi fixed broadband Indonesia masih relatif rendah, meskipun terus meningkat. Pada Desember 2025, penetrasi broadband tetap sudah mendekati 25%, yang berarti ruang pertumbuhan pasar masih sangat besar.

Baca juga : Konser Andrea Bocelli Digelar di Borobudur, Ekonomi Potensi Bergeliat

Besarnya dominasi IndiHome justru menunjukkan bahwa pasar fixed broadband Indonesia belum sepenuhnya matang.Sebagian masyarakat masih mengandalkan internet seluler untuk kebutuhan sehari-hari.

Hal tersebut membuka peluang bagi pemain lain untuk merebut pelanggan melalui harga lebih murah, kecepatan lebih tinggi, layanan yang lebih stabil, atau teknologi baru seperti 5G Fixed Wireless Access (FWA).

Opensignal mencatat teknologi fiber sudah menyumbang lebih dari 90% koneksi fixed broadband Indonesia, sementara teknologi lama seperti xDSL dan kabel terus kehilangan relevansi.

Selain fiber, layanan berbasis FWA dan internet satelit juga mulai mendapatkan perhatian untuk menjangkau wilayah yang sulit dibangun jaringan kabel.