Tren Ekbis

Siapa Penguasa Bisnis Daging Ayam di Indonesia? Ini Peta Usahanya

  • Siapa penguasa bisnis ayam potong di Indonesia? Simak dominasi CPIN, JPFA, MAIN, hingga peta persaingan industri perunggasan nasional.
tips-membedakan-karkas-daging-ayam-potong-segar.jpg
Ilustrasi daging ayam potong. (Chickin)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Industri daging ayam potong Indonesia masih menjadi salah satu sektor pangan paling strategis di Tanah Air. Sebagai sumber protein hewani utama masyarakat, terutama bagi mayoritas penduduk Muslim, permintaan ayam diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. 

Hal ini didorong oleh pertumbuhan konsumsi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga investasi pemerintah di sektor peternakan. Di balik besarnya pasar tersebut, industri ayam nasional sejatinya dikuasai oleh segelintir pemain besar. 

Dua emiten, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), menjadi penguasa utama melalui model bisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir. Lalu, siapa sebenarnya penguasa bisnis ayam potong di Indonesia? Berikut ulasan lengkapnya.

Struktur Industri Ayam Potong Indonesia

Industri ayam potong nasional memiliki struktur pasar yang cenderung oligopolistik. CPIN dan JPFA secara kolektif menguasai lebih dari 70% pasar pakan ternak dan bibit ayam (Day Old Chick/DOC), dua komponen paling krusial dalam rantai pasok industri perunggasan.

Kedua perusahaan menerapkan integrasi vertikal penuh, mulai dari produksi pakan ternak (feed), pembibitan (breeder), produksi DOC, budidaya ayam komersial (farming), rumah potong ayam (slaughterhouse), hingga pengolahan produk siap konsumsi (processed food).

Model bisnis tersebut membuat kedua perusahaan mampu mengendalikan pasokan, menjaga efisiensi biaya produksi, serta mempertahankan margin keuntungan dibandingkan pemain yang hanya beroperasi pada salah satu mata rantai industri.

Baca juga : Pohon Bisnis Bakrie Group, Dari Tambang, Properti hingga Kendaraan Listrik

Di sisi permintaan, prospek industri juga masih sangat besar. Daging ayam menyumbang lebih dari 65% konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. Namun konsumsi ayam nasional baru sekitar 8,14 kilogram per kapita per tahun, masih jauh di bawah Malaysia yang mencapai 30,13 kilogram maupun Amerika Serikat sekitar 34,78 kilogram per kapita per tahun. Kondisi ini menunjukkan ruang pertumbuhan industri masih terbuka lebar.

CPIN Jadi Raja Bisnis Ayam Nasional

Di antara seluruh pelaku industri, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) masih menjadi pemain terbesar. Anak usaha Charoen Pokphand Group asal Thailand tersebut diperkirakan menguasai sekitar 40% pangsa pasar ayam potong nasional, menjadikannya pemimpin mutlak industri.

Dominasi CPIN juga terlihat pada berbagai lini usaha lainnya. Pada bisnis pakan ternak, perusahaan menguasai sekitar 32% pangsa pasar, sementara pada bisnis DOC mencapai sekitar 38%. Di sektor makanan olahan berbasis ayam, CPIN melalui Primafood International juga menjadi pemimpin pasar dengan pangsa sekitar 20%.

Portofolio mereknya sangat luas, mulai dari Fiesta, Champ, Akumo, Asimo, Okey, So Good, hingga produk ayam segar (Fresh Chicken). Untuk kategori ayam beku saja, merek Fiesta menguasai sekitar 8,9% pasar nasional.

Keunggulan lain CPIN terletak pada jaringan distribusinya. Perusahaan memiliki lebih dari 3.600 gerai ritel dengan pangsa pasar hilir sekitar 49%, sehingga mampu mengendalikan penjualan langsung kepada konsumen.

Dari sisi fundamental, CPIN membukukan margin laba bersih sekitar 7,88% dan Return on Equity (ROE) sekitar 15,43%. Operasional perusahaan juga didukung lebih dari 12.000 peternak plasma yang menjadi bagian dari jaringan kemitraannya.

Di sektor hulu, CPIN juga merupakan pemegang kuota Grand Parent Stock (GPS) terbesar di Indonesia. Posisi tersebut memberikan fleksibilitas tinggi dalam menjaga pasokan DOC nasional.

Untuk menjaga biaya pakan tetap kompetitif, CPIN bekerja sama dengan PT BISI International Tbk dalam menyerap hasil panen jagung petani. Pada 2024 perusahaan berhasil mengamankan sekitar 367 ribu ton jagung, sehingga membantu menjaga stabilitas biaya produksi.

JPFA Menjadi Penantang Terkuat

Posisi kedua ditempati PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Perusahaan yang berdiri sejak 1971 dan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1989 tersebut berkembang menjadi salah satu perusahaan agribisnis terbesar di Asia melalui induknya, Japfa Ltd.

JPFA menguasai sekitar 21% pasar pakan ternak dan 25% pasar DOC, menjadikannya pesaing utama CPIN.

Di sektor hilir, JPFA memiliki sejumlah merek kuat seperti Ayam JAPFA, So Good, Best Chicken, hingga Tokusen Wagyu Beef. Untuk kategori makanan olahan, So Good menguasai sekitar 19% pangsa pasar nasional, menempatkannya sebagai pemain nomor dua setelah Primafood.

Tidak hanya unggas, JPFA juga menjalankan bisnis peternakan sapi potong, akuakultur, industri pangan, hingga perdagangan umum.

Prospek keuangan perusahaan juga masih positif. Sejumlah analis memperkirakan laba bersih JPFA mencapai sekitar Rp3,498 triliun pada 2025 dan meningkat menjadi sekitar Rp3,996 triliun pada 2026, dengan valuasi Price Earnings Ratio (PER) sekitar 7,7 kali.

Baca juga : Saham TLKM Masih Murah? Asing Borong Saat Pasar Berdarah

MAIN Jadi Pemain Terintegrasi Terbesar Ketiga

Di luar dua raksasa tersebut, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) menjadi perusahaan terintegrasi terbesar berikutnya. MAIN menjalankan bisnis mulai dari produksi pakan ternak, pembibitan ayam, peternakan komersial, perdagangan grosir, hingga penelitian dan pengembangan sektor pertanian.

Perusahaan mengoperasikan 27 peternakan ayam potong yang tersebar di berbagai wilayah seperti Bogor, Subang, Purwakarta, Lamongan, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kapasitas produksi DOC MAIN juga cukup besar, yakni sekitar 335 juta ekor per tahun, menjadikannya salah satu pemain penting dalam menjaga pasokan bibit ayam nasional.

Selain tiga perusahaan terbesar tersebut, sejumlah pelaku usaha lain juga memiliki posisi penting dalam industri ayam nasional.

Baca juga : Agung Podomoro Gelar Talent Expo 2026, Rekrut 250 Talenta Baru di 22 Unit Bisnis

Beberapa di antaranya meliputi:

  • PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk (SIPD) yang menjalankan bisnis pembibitan, peternakan komersial, rumah potong ayam, hingga makanan beku.
  • PT Dewi Shri Farmindo Tbk (DEWI) yang bergerak pada peternakan ayam pedaging dan pengolahan hasil pemotongan.
  • PT Suci Raharjo melalui merek SR yang dikenal sebagai produsen ayam olahan bersertifikat halal.
  • Sungai Budi Group melalui Santoso Farm, yang mengembangkan bisnis dari pakan ternak hingga peternakan ayam dan pengolahan produk.
  • Salim Group, yang masuk ke sektor peternakan melalui PT Ternak Ayam Terpadu Indonesia.
  • Primafood International, unit bisnis CPIN yang menjadi pemimpin pasar produk ayam olahan dengan pangsa sekitar 20%.
  • So Good Food, bagian dari JPFA yang menguasai sekitar 19% pasar produk olahan ayam.

Kinerja Emiten Perunggasan Menguat

Kinerja industri juga mulai membaik sepanjang 2026. Pada kuartal I 2026, CPIN dan JPFA sama-sama mencatat pertumbuhan laba yang kuat seiring membaiknya harga ayam hidup di tingkat peternak.

Harga farmgate ayam meningkat dari sekitar Rp15.400 menjadi Rp22.800 per kilogram, sehingga mendorong kenaikan profitabilitas perusahaan.

Bahkan, CPIN sebelumnya disebut telah mencapai target laba penuh 2025 hanya dalam sembilan bulan pertama berkat membaiknya harga ayam dan efisiensi operasional.

Meski prospeknya positif, industri ayam nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, biaya produksi masih sangat bergantung pada harga jagung dan bungkil kedelai yang dipengaruhi impor serta fluktuasi nilai tukar rupiah.

Kedua, JPFA masih memiliki eksposur utang dalam denominasi dolar Amerika Serikat sekitar Rp5 triliun, sehingga rentan terhadap risiko pelemahan rupiah dan refinancing.

Ketiga, industri juga pernah mengalami oversupply pada paruh pertama 2025 ketika harga ayam hidup turun di bawah biaya pokok produksi akibat kelebihan pasokan.

Keempat, munculnya platform digital seperti Chickin Indonesia mulai mengubah ekosistem peternakan rakyat. Platform tersebut menyediakan akses pembiayaan, pakan, pendampingan, hingga logistik bagi peternak mandiri. Pada 2023, Chickin telah memfasilitasi transaksi sekitar 45 juta ekor ayam, yang dalam jangka panjang berpotensi mengurangi dominasi pemain besar.

Kelima, kebijakan pemerintah mengenai harga acuan atau harga lantai ayam hidup dan DOC juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi dinamika pasokan, harga jual, serta margin perusahaan.