Seberapa Besar Ekspor Gas RI ke Singapura dan Malaysia?
- Berapa nilai ekspor gas Indonesia ke Singapura dan Malaysia? Simak data BPS 2021–2025, tren volume, dan kontribusinya terhadap ekspor nasional.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Singapura masih menjadi pasar ekspor gas alam terbesar Indonesia di tengah penurunan volume pengiriman dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor gas alam Indonesia ke Singapura mencapai US$1,66 miliar pada 2025, turun dibandingkan US$2,22 miliar pada 2024.
Sementara itu, ekspor gas ke Malaysia menyusut jauh lebih tajam. Pada 2024, nilai ekspor ke negara tetangga tersebut hanya mencapai US$30,5 juta, merosot dari US$108,8 juta pada 2021.
Data BPS dalam tabel Exports of Natural Gas by Major Country of Destination menunjukkan, nilai ekspor gas Indonesia ke Singapura sempat mencapai puncaknya dalam periode tersebut pada 2022, yakni US$3,02 miliar. Lonjakan itu terjadi ketika harga gas global meningkat di tengah gejolak pasokan energi dunia setelah perang Rusia-Ukraina.
Namun, setelah 2022, nilai ekspor gas ke Singapura kembali menurun. Pada 2023, nilainya tercatat US$2,26 miliar, kemudian menjadi US$2,22 miliar pada 2024 dan US$1,66 miliar pada 2025.
Penurunan nilai ekspor tersebut berjalan beriringan dengan berkurangnya volume pengiriman. Pada 2021, Indonesia mengekspor sekitar 5,78 juta ton gas alam ke Singapura. Angka tersebut turun menjadi 4,67 juta ton pada 2022, 4,04 juta ton pada 2023, 3,74 juta ton pada 2024, dan 3,22 juta ton pada 2025.
Dengan demikian, volume ekspor gas ke Singapura pada 2025 telah menyusut sekitar 44,3% dibandingkan 2021. Sementara itu, nilai ekspornya turun sekitar 40% dibandingkan puncak pada 2022.
Baca juga : BRI Tanam 30.000 Mangrove di Demak, Sampah Diolah Jadi Pemecah Ombak
Pangsa Singapura terhadap Ekspor Gas RI Menyusut
Meski masih menjadi pembeli terbesar, kontribusi Singapura terhadap total ekspor gas Indonesia terus mengecil. Berdasarkan volume, pangsa Singapura turun dari 33,7% pada 2021 menjadi 29,8% pada 2022, 26,1% pada 2023, dan 24,2% pada 2024. Pada 2025, porsinya kembali turun menjadi 22,9%.
Dari sisi nilai, kontribusi Singapura terhadap total ekspor gas Indonesia juga menyusut dari 37,3% pada 2021 menjadi 31,1% pada 2022. Pangsa tersebut kemudian turun menjadi 25,8% pada 2023, 24,9% pada 2024, dan 23,1% pada 2025.
Secara nasional, nilai ekspor gas alam Indonesia mencapai US$7,19 miliar pada 2025, lebih rendah dibandingkan US$8,91 miliar pada 2024. Adapun total volume ekspor gas alam turun dari 15,49 juta ton pada 2024 menjadi 14,04 juta ton pada 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penurunan pengiriman ke Singapura berlangsung bersamaan dengan menyusutnya ekspor gas Indonesia secara keseluruhan. Meski demikian, Singapura masih menyumbang hampir seperempat nilai ekspor gas nasional sehingga tetap menjadi pasar yang signifikan bagi industri gas Indonesia.
Ekspor ke Malaysia Turun 83% dalam Tiga Tahun
Berbeda dengan Singapura, posisi Malaysia sebagai tujuan ekspor gas Indonesia semakin mengecil. Pada 2021, Indonesia mengekspor 327 ribu ton gas alam ke Malaysia dengan nilai US$108,8 juta.
Volume tersebut turun menjadi 193 ribu ton pada 2022 dan 110,7 ribu ton pada 2023. Pada 2024, ekspor gas ke Malaysia hanya mencapai 56,4 ribu ton dengan nilai US$30,5 juta.
Artinya, volume ekspor gas Indonesia ke Malaysia pada 2024 telah merosot sekitar 82,8% dibandingkan 2021. Sementara itu, nilai ekspornya turun sekitar 72% dalam periode yang sama.
Pangsa Malaysia terhadap volume ekspor gas nasional pun menyusut dari 1,9% pada 2021 menjadi 0,4% pada 2024. Berdasarkan tabel BPS edisi Juli 2026, tidak terdapat angka ekspor gas ke Malaysia untuk 2025.
Baca juga : Rupiah Melemah ke Rp18.074, Likuiditas BI Belum Redam Tekanan
Meski demikian, tidak tercatatnya angka tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh pengiriman gas ke Malaysia telah dihentikan. Data tersebut perlu dibaca sebagai ekspor yang tidak tercatat atau tidak signifikan dalam tabel yang digunakan.
Ekspor gas Indonesia ke Singapura selama ini didominasi pengiriman melalui jaringan pipa, bukan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Berdasarkan data yang dihimpun dalam bahan riset dari BPS dan WITS/World Bank, ekspor gas pipa ke Singapura pada 2024 mencapai sekitar 3,65 juta ton dengan nilai US$2,17 miliar. Sementara itu, ekspor LNG tercatat sekitar 95.730 ton dengan nilai US$54,1 juta.
Dengan komposisi tersebut, LNG hanya menyumbang sekitar 2,6% dari volume ekspor gas Indonesia ke Singapura pada 2024. Sisanya didominasi gas yang dikirim melalui jaringan pipa.
Ketergantungan pada infrastruktur pipa membuat perubahan kebijakan pasokan dan alokasi gas berpengaruh langsung terhadap volume ekspor. Salah satu jalur utama adalah West Natuna Transportation System (WNTS), yang mengalirkan gas dari kawasan Natuna menuju Singapura. Selain itu, terdapat jaringan pipa yang menghubungkan Sumatra dengan Singapura.
Di sisi lain, ekspor ke Malaysia juga terkait dengan jaringan pipa, termasuk jalur West Natuna–Duyong. Namun, volume pengiriman ke negara tersebut kini jauh lebih kecil dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Baca juga : Membaca Ruang Pemulihan BBRI: Valuasi Murah dan Laba Jadi Penopang
Pemerintah Prioritaskan Kebutuhan Gas Domestik
Penurunan ekspor gas ke Singapura dan Malaysia terjadi ketika kebutuhan energi dalam negeri menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengelolaan pasokan gas nasional.
Pada 2024, data SKK Migas yang dirangkum dalam bahan riset menunjukkan ekspor gas pipa ke Singapura menyumbang sekitar 6,95% dari total penyaluran gas bumi nasional. Angka ini berbeda dari pangsa Singapura terhadap total ekspor gas karena perhitungan SKK Migas mencakup penyaluran gas untuk kebutuhan domestik.
Kebijakan pengutamaan pasar domestik juga terlihat dari pengurangan ekspor gas pipa dari Sumatra ke Singapura mulai Juni 2025. Berdasarkan informasi SKK Migas yang dirangkum dalam bahan riset, pengurangan tersebut mencapai sekitar 25–30 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd).
Pasokan dari Sumatra yang sebelumnya sekitar 200 MMscfd dikurangi menjadi sekitar 175 MMscfd, sementara kekurangan pasokan untuk memenuhi kontrak Singapura ditutup melalui tambahan pasokan dari Natuna. Gas yang dialihkan dari Sumatra dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk Batam.
Kebijakan tersebut mencerminkan upaya pemerintah menyeimbangkan kewajiban kontrak ekspor dengan kebutuhan energi domestik. Di tengah keterbatasan pasokan dari sejumlah lapangan gas yang telah menua dan meningkatnya kebutuhan dalam negeri, alokasi gas menjadi faktor penting dalam menentukan ruang ekspor Indonesia.

Chrisna Chanis Cara
Editor
