Penerapan ESG Dorong Industri Keuangan Lebih Tahan Krisis
- Penerapan ESG di industri keuangan dinilai meningkatkan kepercayaan investor, memperkuat manajemen risiko, dan membuka peluang pembiayaan berkelanjutan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kian menjadi faktor strategis dalam pengembangan industri keuangan. ESG kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian dari strategi inti untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan sektor keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi serta perubahan iklim.
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat bahwa integrasi ESG membantu lembaga keuangan mengidentifikasi risiko jangka panjang yang sebelumnya kurang diperhitungkan, mulai dari dampak perubahan iklim, risiko sosial, hingga kualitas tata kelola perusahaan. Menurut OECD, institusi dengan praktik ESG yang kuat cenderung lebih tangguh menghadapi guncangan ekonomi, tekanan pasar, serta perubahan kebijakan global.
Dari sisi lingkungan, penerapan ESG mendorong industri keuangan menyalurkan pembiayaan ke sektor ramah lingkungan, seperti energi terbarukan, efisiensi energi, dan proyek rendah karbon. International Finance Corporation (IFC) menilai pembiayaan hijau dapat mengurangi risiko aset terdampar atau stranded assets, seiring meningkatnya kebijakan global yang membatasi penggunaan energi berbasis fosil dan memperketat standar emisi.
Selain aspek lingkungan, ESG juga menempatkan dimensi sosial sebagai bagian penting dalam aktivitas keuangan. Praktik keuangan yang inklusif dan bertanggung jawab dinilai mampu memperluas akses layanan keuangan, meningkatkan perlindungan konsumen, serta memperkuat hubungan antara lembaga keuangan dan masyarakat.
Sementara itu, tata kelola perusahaan menjadi fondasi utama dalam penerapan ESG. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa transparansi, akuntabilitas, serta integritas pengelolaan perusahaan merupakan kunci dalam menjaga kepercayaan investor dan memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional. Dalam Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan Indonesia, OJK mendorong industri jasa keuangan untuk mengintegrasikan ESG dalam strategi bisnis dan manajemen risiko.
Di Indonesia, penerapan ESG di sektor keuangan juga semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk proyek berkelanjutan. OJK mencatat bahwa pembiayaan hijau dan berkelanjutan memiliki potensi besar untuk mendukung transisi energi, pembangunan infrastruktur ramah lingkungan, serta pencapaian target penurunan emisi nasional.

Dari perspektif investasi, OECD juga mencatat bahwa ESG semakin menjadi acuan bagi investor institusional dan investor ritel global. Investor kini lebih selektif dalam menempatkan dana, dengan menjadikan kinerja keberlanjutan sebagai indikator risiko dan potensi pertumbuhan jangka panjang. Hal ini mendorong lembaga keuangan untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pelaporan ESG agar tetap kompetitif di pasar global.
Sejalan dengan hal tersebut, World Economic Forum menyebut generasi milenial dan Gen Z sebagai pendorong utama meningkatnya permintaan terhadap produk keuangan berkelanjutan. Generasi muda dinilai lebih sadar terhadap isu lingkungan dan sosial, serta cenderung memilih produk investasi yang selaras dengan nilai keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Dalam beberapa tahun ke depan, penerapan ESG di industri keuangan diperkirakan akan terus meluas seiring meningkatnya tekanan global terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola. Lembaga keuangan yang mampu mengintegrasikan ESG secara konsisten dinilai memiliki keunggulan kompetitif dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks, sekaligus berpeluang menarik aliran investasi berkelanjutan yang terus tumbuh.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
