Mesin Pertumbuhan di Balik Laba Rp5,3 Triliun BSI
- Laba BSI mencapai Rp5,30 triliun hingga Agustus 2026. Pertumbuhan ditopang pembiayaan, dana murah, bisnis emas, dan fee based income.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat laba Rp5,30 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 10,07% secara tahunan (yoy). Di balik pertumbuhan tersebut, BSI mulai memperbesar kontribusi bisnis di luar pembiayaan melalui fee based income (FBI), bisnis emas, serta penguatan dana murah.
Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan BSI tidak hanya berasal dari ekspansi penyaluran pembiayaan. Hingga Agustus 2026, pembiayaan BSI tumbuh 16,21% yoy menjadi Rp344 triliun, sementara FBI tumbuh jauh lebih tinggi sebesar 36,27% menjadi Rp5,6 triliun.
Pertumbuhan FBI terutama berasal dari bisnis treasury dan emas. Kontribusi pendapatan berbasis komisi tersebut membuat fee based ratio BSI meningkat menjadi 23,07%.
Semakin besar bagian pendapatan BSI yang berasal dari aktivitas non-pembiayaan. Diversifikasi ini menjadi penting karena memberikan tambahan sumber pendapatan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap ekspansi pembiayaan sebagai satu-satunya penggerak pertumbuhan.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan penguatan tersebut menunjukkan fundamental perseroan semakin kuat.
“Kami melihat fundamental BSI semakin kuat. Pertumbuhan laba dua digit berjalan beriringan dengan penguatan CASA, pertumbuhan pembiayaan yang lebih tinggi, penurunan cost of fund, serta akselerasi fee based income. Ini menunjukkan mesin pertumbuhan BSI semakin terdiversifikasi dan memiliki ruang untuk terus berkembang,” kata Anggoro, dalam keterangan resminya.
Baca juga : Peta Persaingan Bisnis HP di Indonesia, Siapa Penguasa Pasar?
Dana Murah BSI Makin Besar
Selain memperbesar pendapatan non-pembiayaan, BSI juga memperkuat struktur pendanaannya. Dana pihak ketiga (DPK) hingga Agustus 2026 mencapai Rp389 triliun, tumbuh 17,71% yoy.
Dari jumlah tersebut, dana murah atau current account saving account (CASA) mencapai Rp246 triliun. Tabungan menjadi salah satu penopang utama CASA dengan nilai mencapai Rp171 triliun.
Pertumbuhan dana murah memberikan keuntungan bagi BSI dari sisi biaya pendanaan. Hal tersebut tercermin dari cost of fund (CoF) yang turun 37 basis poin secara tahunan menjadi 2,30%.
Penurunan CoF membuat biaya yang harus dikeluarkan BSI untuk memperoleh dana menjadi lebih rendah. Kondisi ini memberikan ruang bagi perseroan untuk menjaga daya saing pembiayaan sekaligus menopang profitabilitas.
Secara sederhana, kombinasi antara DPK yang tumbuh 17,71%, CASA Rp246 triliun, dan CoF yang turun menunjukkan BSI tidak hanya memperbesar volume dana, tetapi juga berupaya mendapatkan struktur pendanaan yang lebih efisien.
Baca juga : 6 Emiten yang Potensi Terdampak Kemenko Hilirisasi, Ada ANTM-BUMI
Meski mulai memperbesar bisnis non-pembiayaan, pembiayaan tetap menjadi bagian utama dari bisnis BSI.
Hingga Agustus 2026, pembiayaan BSI mencapai Rp344 triliun atau tumbuh 16,21% yoy. Ekspansi tersebut tetap diikuti dengan pengelolaan kualitas pembiayaan dengan non-performing financing (NPF) gross sebesar 1,8%.
Pertumbuhan pembiayaan yang tetap tinggi dan kualitas aset yang terjaga menjadi kombinasi penting bagi BSI. Pasalnya, ekspansi pembiayaan yang terlalu agresif tanpa pengendalian kualitas dapat meningkatkan risiko terhadap profitabilitas bank.
Karena itu, strategi BSI pada 2026 tidak hanya diarahkan untuk memperbesar penyaluran pembiayaan, tetapi juga memperkuat sumber pendapatan lain.
Danantara : Rupiah Melemah ke Rp17.903, Harga Minyak Jadi Harapan Penguatan
Bisnis Emas hingga Ekosistem Haji
BSI akan memperluas sejumlah lini bisnis untuk menopang pertumbuhan hingga akhir 2026. Salah satunya melalui pengembangan bisnis emas yang telah menjadi salah satu pendorong FBI.
Selain emas, BSI akan memperkuat dana murah melalui pengembangan ekosistem haji dan umrah. Bank juga akan memperluas pembiayaan ritel dan konsumer berbasis underlying yang dinilai resilien.
Pengembangan layanan syariah dan digital juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Langkah ini memungkinkan BSI mengembangkan hubungan dengan nasabah tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga melalui transaksi dan berbagai layanan keuangan lainnya.
Strategi tersebut menjadi semakin relevan ketika pertumbuhan FBI mencapai 36,27%, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 16,21%.
Artinya, salah satu ruang pertumbuhan BSI ke depan tidak hanya berada pada seberapa besar pembiayaan yang dapat disalurkan, tetapi juga seberapa besar transaksi dan layanan keuangan dapat dikonversi menjadi pendapatan berbasis fee.

Muhammad Imam Hatami
Editor
