Tren Ekbis

Mengulas Manfaat AZEC Proyek Energi Bersih Indoenesia-Jepang

  • Indonesia dan Jepang percepat proyek energi bersih melalui AZEC EGM ke-9, memperluas kerja sama transisi energi dan pengembangan green industry.
publikasi_1724230742_66c5ac569b8d4.jpg
AZEC (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemerintah Indonesia dan Jepang mempercepat proyek energi bersih melalui Asia Zero Emission Community-Expert Group Meeting (AZEC-EGM) ke-9, sebuah forum kerja sama yang menyiapkan percepatan transisi energi dan pengembangan ekonomi rendah karbon di wilayah Asia. Pertemuan ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama dalam pembangunan energi bersih yang berkelanjutan.

Salah satu fokus utama AZEC-EGM kali ini adalah pembahasan proyek energi yang memiliki peran strategis dalam transisi energi nasional, seperti perluasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla dan PLTP Hululais, waste-to-energy melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka, serta pembangunan jaringan transmisi listrik Jawa–Sumatera yang akan memperkuat konektivitas energi antar-pulau.

Source: Kementerian ESDM

Selain itu, pembahasan juga difokuskan terkait inisiatif amonia hijau di Aceh dan proposal Indonesia mengenai template studi bersama untuk perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA).

Deputy Commissioner for International Affairs Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Ueno Asako menyampaikan harapan agar keenam proyek prioritas AZEC dapat menunjukkan progres yang signifikan dalam waktu dekat, khususnya sebelum berakhirnya tahun fiskal Jepang pada Maret 2026.

"Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah dan akan berkoordinasi lebih detail dengan Kementerian dan Lembaga terkait seperti Kementerian ESDM, PT PLN, dan pemerintah daerah setempat," ujar Ketua Kelompok Ahli Satgas AZEC sekaligus Ketua Delegasi Indonesia Raden Pardede, dikutip pada keterangan resmi Kamis, 5 Februari 2026.

Proyek PLTSa Legok Nangka sendiri diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai USD 400 juta dan ditargetkan mencapai financial close pada akhir 2026, setelah melalui tahapan teknis, pembiayaan, dan pemenuhan aspek sustainability.

Selain itu, kemajuan proyek PLTP Hululais juga dimonitor bersama. Prosesnya telah memasuki tahap perjanjian pinjaman (loan agreement) dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), sehingga diharapkan proses pengadaan dapat segera dimulai.

Inisiatif Green Ammonia dan Standarisasi PPA

Pembahasan perkembangan inisiatif green ammonia di Aceh menjadi integrasi terpenting dalam rantai pasok energi bersih dan sektor industri. Inisiatif ini diharapkan mendukung urgensi dekarbonisasi global.

Selain itu, Indonesia mengusulkan riset bersama untuk menyusun template PPA geothermal yang bertujuan menciptakan standar operasional yang mempercepat proses negosiasi antara pengembang pembangkit panas bumi dan PT PLN (Persero). Standarisasi ini diharapkan meningkatkan kepastian usaha, memitigasi risiko, dan mempercepat penyelesaian proyek.

Mekanisme Kolaborasi AZEC

Melansir dari JBIC Integrated Report 2025, Kamis, 5 Februari 2026, AZEC merupakan forum kerja sama multilateral yang melibatkan negara-negara Asia dalam upaya percepatan transisi energi bersih dengan menggabungkan pembangunan ekonomi dan pengurangan emisi karbon. 

Dalam pertemuan expert group, delegasi teknis dari kedua negara membahas langkah rinci seperti survei teknis, studi kelayakan, negosiasi pembiayaan, dan kerangka kerja hukum untuk masing-masing proyek.

Melalui struktur regular expert group meeting ini, Indonesia dan Jepang membentuk suatu mekanisme kerja bersama yang memastikan bahwa proyek-proyek energi bersih seperti panas bumi dan sampah jadi listrik dapat direalisasikan sesuai dengan roadmap yang telah disepakati bersama sejak pembentukan task force pada 2023.

Manfaat Jangka Pendek dan Panjang

Kerja sama energi bersih antara Indonesia dan Jepang dinilai memberikan dampak langsung maupun jangka panjang terhadap transformasi sektor energi nasional. Melansir pada laman Bappenas, Kamis, 5 Februari 2026, dalam jangka pendek kolaborasi ini mendorong percepatan proyek energi terbarukan, penguatan sistem kelistrikan, serta integrasi energi bersih melalui pengembangan jaringan transmisi dan studi bersama seperti Green-Enabling Super Grid.

Inisiatif tersebut membantu meningkatkan keandalan pasokan listrik nasional sekaligus mempercepat pembangunan proyek panas bumi dan infrastruktur energi rendah karbon. Selain itu, percepatan proyek melalui skema kerja sama seperti AZEC juga membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru serta mendorong adopsi teknologi energi bersih di sektor industri. 

Dalam jangka panjang, kolaborasi Indonesia–Jepang berperan penting dalam upaya penurunan emisi karbon dan pencapaian target Net Zero Emission Indonesia pada 2060. Selain meningkatkan ketahanan energi nasional, kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem energi hijau global dan menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan melalui pengembangan pasar energi bersih di masa depan.