Forever 21 Bangkrut, 350 Toko di Seluruh Dunia Ditutup
- Peritel pakaian wanita ternama Amerika serikat Forever 21 pada Minggu (29/09/2019) malam mengajukan kebangkrutan dan menghentikan operasi di 40 negara,...

AZ
Author


Peritel pakaian wanita ternama Amerika serikat Forever 21 pada Minggu (29/09/2019) malam mengajukan kebangkrutan dan menghentikan operasi di 40 negara, termasuk Kanada dan Jepang, dan juga Indonesia.
Ritel yang berbasis di California dan selama ini dikenal membantu mempopulerkan mode di Amerika Serikat mengatakan akan menutup hingga 178 toko di Amerika Serikat dan hingga 350 toko secara global.
The New York Times melaporkan perusahaan masih akan terus beroperasi, namun hanya melakui situs webnya dan beberapa toko di Amerika Serikat saja.
"Apa yang kami harapkan untuk dilakukan dengan proses ini hanyalah menyederhanakan hal-hal sehingga kami dapat kembali melakukan yang terbaik," kata wakil presiden eksekutif Forever 21, Linda Chang, yang dikutip oleh The New York Times.
Forever 21 didirikan pada 1980-an di California oleh keluarga migran dari Korea Selatan. Peritel fesyen itu mengalami kesuksesan besar pada awal 2000-an dengan koleksi barang dagangannya yang meniru gaya perancang besar tetapi dengan harga sangat murah.
Konsumen inti perusahaan sebagian besar adalah remaja dan wanita muda yang ingin tampil sesuai mode yang terkini. Hal ini membantu perusahaan memperluas jaringan dengan cepat selama beberapa dekade terakhir.
“Kami pergi dari tujuh negara ke 47 negara dalam jangka waktu kurang dari enam tahun dan dengan itu muncul banyak kompleksitas industri ritel jelas berubah telah terjadi pelunakan lalu lintas dan penjualan mal bergeser lebih ke online, ”kata Chang, dikutip oleh The New York Times.
Menurut laporan media, perusahaan mempekerjakan sekitar 32.800 orang, turun dari 43.000 pada 2016. Forever 21 dilaporkan mengalami penurunan pendapatan menjadi US$ 3,3 miliar tahun lalu, turun dari $ 4,4 miliar pada 2016. Forever 21 mengharapkan bahwa restrukturisasi perusahaan akan membawa masuk dana US$ 2,5 miliar dari penjualan tahunan.
