Tren Ekbis

Film Nasional Dominasi Penonton, Cinema XXI Raup Pendapatan Rp2,6 Triliun

  • Cinema XXI bukukan pendapatan Rp2,6 triliun dan laba bersih Rp201 miliar pada semester I-2026. Kinerja didorong kenaikan jumlah penonton hingga ekspansi jaringan bioskop di daerah.
WhatsApp Image 2026-04-30 at 13.51.04.jpeg
Cinema XXI. (Cinema XXI)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (Cinema XXI, kode saham: CNMA) membukukan pendapatan sebesar Rp2,6 triliun sepanjang semester I-2026, didukung meningkatnya jumlah penonton bioskop serta membaiknya performa industri perfilman nasional. 

Perseroan juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp708,2 miliar dan laba bersih Rp201 miliar pada periode tersebut. Kinerja tersebut menunjukkan pemulihan operasional yang lebih kuat pada kuartal II-2026 dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini.

Hal itu seiring bertambahnya jumlah layar bioskop dan meningkatnya pilihan film nasional maupun internasional yang berhasil menarik penonton. Direktur Utama Cinema XXI Suryo Suherman mengatakan capaian tersebut merupakan hasil konsistensi strategi bisnis dan efisiensi operasional yang dijalankan perseroan.

"Capaian Perseroan pada semester pertama tahun 2026 mencerminkan konsistensi pelaksanaan strategi bisnis dan disiplin operasional Cinema XXI. Perseroan berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman menonton terbaik melalui layanan berkualitas dan inovasi yang relevan," ujar Suryo dalam keterangan resmi, Kamis, 30 Juli 2026.

Ia menambahkan perseroan akan terus memperkuat fundamental bisnis, mengoptimalkan berbagai sumber pendapatan (revenue stream), serta memperluas jangkauan layanan untuk menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan.

Kinerja Membaik pada Kuartal II

Cinema XXI mencatat total pendapatan sekitar Rp1,5 triliun pada kuartal II-2026, meningkat sekitar 40% dibandingkan kuartal I yang sebesar Rp1,1 triliun.

Perbaikan tersebut didorong meningkatnya jumlah penonton dari sekitar 15,5 juta orang pada kuartal I menjadi 21,9 juta orang pada kuartal II-2026. Kenaikan jumlah pengunjung sejalan dengan bertambahnya layar bioskop baru serta hadirnya sejumlah film yang mampu menarik minat masyarakat.

Pendapatan dari penjualan tiket bioskop naik 38%, dari Rp665,3 miliar pada kuartal I menjadi Rp919,4 miliar pada kuartal II. Sementara itu, penjualan makanan dan minuman (food and beverage/F&B) tumbuh lebih tinggi, yakni 48%, dari Rp357,6 miliar menjadi Rp528,8 miliar.

Secara keseluruhan, sepanjang semester pertama 2026, penjualan tiket masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp1,6 triliun atau sekitar 60,2% dari total pendapatan.

Disusul penjualan makanan dan minuman sebesar Rp886,3 miliar atau 33,7%, sedangkan pendapatan lain seperti iklan, platform digital, dan penyelenggaraan acara menyumbang Rp160,2 miliar atau sekitar 6,1%.

Tambah Bioskop dan Perluas Jangkauan

Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, Cinema XXI melanjutkan ekspansi secara selektif ke sejumlah wilayah potensial.

Sepanjang semester I-2026, perseroan membuka dua lokasi baru, yakni Ciplaz Cipanas XXI dan 23 Semarang XXI, dengan tambahan tujuh layar.

Hingga 30 Juni 2026, Cinema XXI mengoperasikan 269 bioskop dengan total 1.395 layar yang tersebar di 55 kota dan 30 kabupaten di seluruh Indonesia.

Ekspansi tersebut dilakukan di tengah masih besarnya potensi pertumbuhan industri bioskop nasional. Dibandingkan negara-negara tetangga, rasio jumlah layar bioskop terhadap jumlah penduduk di Indonesia masih relatif rendah sehingga membuka peluang ekspansi jaringan di berbagai daerah, khususnya kota lapis kedua dan ketiga.

Film Nasional Mendominasi

Semester pertama 2026 juga menjadi periode yang positif bagi perfilman Indonesia. Lebih dari 65% total penonton di jaringan Cinema XXI berasal dari film nasional, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap karya sineas Indonesia.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, terdapat 17 film—baik nasional maupun internasional—yang berhasil menembus lebih dari satu juta penonton di seluruh jaringan bioskop Indonesia.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat 15 film dengan capaian serupa. Menurut Suryo, tren tersebut menunjukkan industri perfilman nasional semakin kompetitif dan mampu bersaing dengan film-film internasional.

"Kami mengapresiasi antusiasme masyarakat terhadap pilihan film yang semakin beragam. Capaian ini menunjukkan bahwa film nasional dan film internasional diapresiasi oleh penonton. Hal ini memotivasi Cinema XXI untuk terus menghadirkan pengalaman menonton terbaik melalui layanan yang prima, fasilitas yang nyaman, serta teknologi audiovisual berstandar internasional," katanya.

Prospek Industri Masih Positif

Kinerja Cinema XXI mencerminkan berlanjutnya pemulihan industri bioskop setelah beberapa tahun terdampak pandemi COVID-19. Selain meningkatnya mobilitas masyarakat, kualitas produksi film Indonesia yang terus membaik serta jadwal rilis film internasional yang lebih stabil turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan jumlah penonton.

Meski demikian, industri bioskop masih menghadapi tantangan berupa perubahan pola konsumsi hiburan akibat berkembangnya layanan streaming. Karena itu, pelaku industri terus berupaya meningkatkan pengalaman menonton melalui inovasi teknologi, kenyamanan fasilitas, serta diversifikasi sumber pendapatan di luar penjualan tiket.