Tren Ekbis

Deretan Bisnis Konglomerat Low Tuck Kwong Selain BYAN

  • Selain pemilik Bayan Resources (BYAN), Low Tuck Kwong dikaitkan dengan sejumlah bisnis di sektor energi, pertambangan, perhotelan, telekomunikasi, dan properti.
IMG_6827.webp
Low Tuck Kwong masih menjadi pemegang saham mayoritas Bayan. Haji Isam belum tercatat. (Forbes Asia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Low Tuck Kwong dikenal sebagai salah satu pengusaha terkaya di Indonesia berkat kepemilikannya di PT Bayan Resources Tbk (BYAN), perusahaan pertambangan batu bara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Namun, kerajaan bisnis pria kelahiran Singapura tersebut tidak hanya bertumpu pada batu bara. Investasinya juga merambah energi terbarukan, layanan kesehatan, perhotelan, infrastruktur digital, hingga manufaktur kabel listrik.

Low membangun sebagian besar kekayaannya melalui bisnis batu bara di Indonesia. Di sisi lain, Singapura memiliki posisi penting dalam perjalanan hidup dan diversifikasi investasinya. Negara tersebut menjadi tempat kelahirannya sekaligus lokasi sejumlah perusahaan dan aktivitas filantropi yang berkaitan dengannya.

Baca juga : Awas Boros Listrik! Ini 6 Cara Hemat Tagihan Saat Cuaca Panas

Bayan Resources, Fondasi Kekayaan Low Tuck Kwong

Pusat gurita bisnis Low Tuck Kwong berada di PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Perusahaan ini merupakan salah satu produsen batu bara utama Indonesia dengan kegiatan usaha yang mencakup pertambangan, pengolahan, dan distribusi batu bara.

Perjalanan Low di industri batu bara Indonesia bermula pada 1990-an. Ia mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal pada 1997, sebelum mengembangkan bisnisnya melalui pembentukan Bayan Resources pada 2004.

Bayan Resources kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2008. Sejak saat itu, perusahaan tersebut menjadi salah satu aset utama dalam portofolio kekayaan Low Tuck Kwong.

Bisnis batu bara memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai sumber penerimaan negara maupun komoditas ekspor. Permintaan dari pasar internasional, terutama negara-negara Asia, turut memengaruhi prospek pendapatan perusahaan tambang.

Bagi Bayan Resources, skala produksi, efisiensi operasional, kualitas batu bara, biaya pengangkutan, dan harga jual menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja keuangan. Perubahan harga batu bara global dapat berdampak langsung terhadap pendapatan dan laba perusahaan.

Baca juga : 4 Alasan Seseorang Jadi Hobi Flexing, Kamu Termasuk?

Metis Energy, Ekspansi ke Energi Terbarukan

Di luar pertambangan batu bara, Low Tuck Kwong juga memiliki keterkaitan dengan Metis Energy, perusahaan yang berbasis di Singapura dan sebelumnya dikenal sebagai Manhattan Resources.

Metis Energy mengembangkan bisnis di sektor energi terbarukan, termasuk proyek pembangkit energi bersih. Ekspansi ke sektor ini menempatkan perusahaan dalam industri yang memiliki prospek pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan pengurangan emisi karbon dan diversifikasi sumber energi.

Bisnis energi terbarukan memiliki karakteristik berbeda dari pertambangan batu bara. Jika pendapatan perusahaan tambang sangat dipengaruhi harga komoditas dan volume produksi, proyek energi terbarukan umumnya membutuhkan investasi awal besar serta bergantung pada pengembangan proyek, kontrak penjualan listrik, dan kemampuan memperoleh pembiayaan.

Keterlibatan Low dalam perusahaan energi terbarukan memperlihatkan adanya diversifikasi kepentingan bisnis di luar komoditas fosil. Meski demikian, hubungan kepemilikan dan tingkat kendalinya atas Metis Energy perlu dilihat berdasarkan struktur pemegang saham dan keterbukaan informasi perusahaan pada periode yang relevan.

Diversifikasi tersebut juga tidak serta-merta berarti bisnis batu bara dan energi terbarukan berada dalam satu struktur operasional. Keduanya merupakan kegiatan usaha berbeda yang memiliki model pendapatan, risiko, dan kebutuhan modal masing-masing.

Baca juga : 7 Cara Bijak Pakai Kartu Kredit, Jaga Dompetmu Tetap Sehat

The Farrer Park Company, Bisnis Kesehatan dan Perhotelan di Singapura

Gurita bisnis Low Tuck Kwong juga mencakup kepentingan di The Farrer Park Company, perusahaan Singapura yang mengembangkan kompleks terpadu Connexion.

Kompleks tersebut menggabungkan layanan kesehatan melalui Farrer Park Hospital dengan fasilitas perhotelan One Farrer Hotel. Model bisnis terpadu ini menghubungkan layanan medis, akomodasi, dan fasilitas pendukung dalam satu kawasan.

Sektor kesehatan dan perhotelan memiliki karakteristik berbeda dari pertambangan. Bisnis rumah sakit bergantung pada permintaan layanan medis, tenaga profesional, kualitas pelayanan, dan pengelolaan fasilitas. Sementara itu, pendapatan perhotelan dipengaruhi tingkat hunian, tarif kamar, serta aktivitas perjalanan dan pariwisata.

Kepentingan bisnis di sektor ini memperlihatkan upaya memperluas portofolio ke industri yang memiliki sumber pendapatan berbeda dari batu bara.

The Farrer Park Company juga menjadi bagian dari hubungan bisnis keluarga Low dengan Singapura. Putrinya, Elaine Low, tercatat terlibat dalam jajaran dewan perusahaan tersebut berdasarkan informasi yang dirangkum.

SEAX Global dan Infrastruktur Kabel Bawah Laut

Selain energi dan layanan kesehatan, Low Tuck Kwong juga dikaitkan dengan SEAX Global, perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi dan konektivitas digital.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian perusahaan seperti SEAX Global adalah sistem kabel serat optik bawah laut. Infrastruktur ini berfungsi membawa lalu lintas data internasional dan menghubungkan pusat ekonomi serta jaringan telekomunikasi lintas negara.

Konektivitas kabel bawah laut menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan layanan digital, komputasi awan, pusat data, dan komunikasi lintas negara. Singapura memiliki posisi strategis sebagai pusat konektivitas regional, sedangkan Indonesia menawarkan pasar digital yang besar dan kebutuhan jaringan antarpulau.

Investasi pada infrastruktur digital memiliki karakteristik jangka panjang. Pengembangan kabel bawah laut membutuhkan belanja modal besar, perizinan lintas yurisdiksi, dan kerja sama dengan operator telekomunikasi maupun penyedia layanan data.

Bagi investor, sektor ini menawarkan peluang dari pertumbuhan kebutuhan transfer data. Namun, kelayakan bisnis tetap ditentukan oleh tingkat pemanfaatan kapasitas, permintaan pelanggan, biaya pemeliharaan, serta kemampuan perusahaan memperoleh kontrak jangka panjang.

Voksel Electric dan Kepentingan di Sektor Manufaktur

Di Indonesia, Low Tuck Kwong juga dikaitkan dengan kepemilikan saham pada PT Voksel Electric Tbk (VOKS), perusahaan manufaktur kabel dan kawat listrik.

Voksel Electric memproduksi berbagai jenis kabel yang digunakan dalam kebutuhan kelistrikan dan infrastruktur. Produk kabel berperan dalam pembangunan jaringan distribusi listrik, proyek industri, gedung, dan infrastruktur lainnya.

Sektor manufaktur kabel memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan investasi infrastruktur dan kebutuhan elektrifikasi. Permintaan dapat meningkat ketika pembangunan jaringan listrik, proyek properti, serta investasi industri mengalami ekspansi.

Berbeda dengan batu bara yang merupakan komoditas energi, kabel listrik merupakan produk manufaktur dengan struktur biaya yang dipengaruhi harga bahan baku, kapasitas produksi, persaingan harga, dan permintaan proyek.

Kepentingan bisnis di sektor ini memperluas eksposur Low terhadap industri pendukung pembangunan ekonomi. Namun, besaran kepemilikan dan pengaruhnya terhadap keputusan perusahaan perlu mengacu pada data pemegang saham serta laporan resmi Voksel Electric.

Samindo Resources dan Bisnis Jasa Pertambangan

Portofolio yang dikaitkan dengan Low Tuck Kwong juga mencakup kepentingan di Samindo Resources Tbk (MYOH), perusahaan yang bergerak dalam jasa pertambangan batu bara.

Bisnis jasa pertambangan mencakup berbagai kegiatan pendukung operasional tambang, termasuk pemindahan lapisan tanah penutup, pengangkutan batu bara, dan pekerjaan terkait lainnya sesuai lingkup layanan perusahaan.

Sektor ini memiliki hubungan erat dengan aktivitas produksi batu bara. Ketika kegiatan penambangan meningkat, kebutuhan terhadap jasa pendukung dapat bertambah. Sebaliknya, penurunan produksi atau perubahan strategi perusahaan tambang dapat memengaruhi permintaan jasa.

Desaria Property dan Ekspansi Properti di Malaysia

Di luar Indonesia dan Singapura, Low juga dikaitkan dengan investasi di sektor properti Malaysia melalui Desaria Property.

Bisnis properti memiliki karakteristik yang berbeda dari sektor pertambangan dan energi. Pengembangannya membutuhkan pembebasan lahan, perencanaan proyek, perizinan, pembangunan, dan strategi penjualan yang sesuai dengan kondisi pasar.

Permintaan properti dipengaruhi pertumbuhan penduduk, pendapatan masyarakat, suku bunga, akses pembiayaan, serta perkembangan infrastruktur. Risiko proyek juga dapat muncul ketika penjualan melambat atau biaya konstruksi meningkat.

Hubungan Low Tuck Kwong dengan Singapura tidak hanya terlihat dari aktivitas bisnis, tetapi juga dari kegiatan filantropi.

Pada Februari 2023, Low Tuck Kwong Foundation mengumumkan sumbangan pendidikan sebesar S$101 juta yang ditujukan kepada Lee Kuan Yew School of Public Policy dan National University of Singapore (NUS), berdasarkan informasi yang dirangkum.

Sumbangan tersebut memperlihatkan keterlibatan Low dalam mendukung pendidikan tinggi dan pengembangan sumber daya manusia di negara kelahirannya.

Lee Kuan Yew School of Public Policy merupakan institusi pendidikan yang berfokus pada kebijakan publik dan tata kelola. Sementara itu, NUS merupakan salah satu universitas utama di Singapura dengan bidang pendidikan dan penelitian yang luas.