Tren Ekbis

Dari TPS3R hingga RDF, Babak Baru Industri Pengolahan Sampah

  • Pemerintah siapkan empat teknologi pengolahan sampah, dari RDF hingga TPS3R, untuk atasi 80% masalah sampah.
1765961977_0.jpeg
Sampah (Pemkot Tangerang Selatan)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pemerintah Indonesia tengah meluncurkan terobosan teknologi pengelolaan sampah untuk menjawab tantangan besar sampah nasional, sekaligus menjamin keamanan dan peluang bagi komoditas lokal.

Pemerintah mengakui bahwa teknologi waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik yang tengah dikembangkan di puluhan kota hanya mampu menyelesaikan sekitar 20% masalah sampah nasional. 

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, saat ini masih ada sekitar 80% masalah sampah perlu ditangani melalui pendekatan lain.

"Kalau waste to energy itu jalan semua di 33 kota, itu baru 20 persen masalah sampah selesai. Masih ada 80 persen lagi yang belum bisa kita selesaikan," kata Zulhas dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin, 23 Februari 2026.

Untuk menangani sekitar 80% sisanya, pemerintah kini memetakan dan menyiapkan empat jenis teknologi pengolahan sampah yang lebih tepat guna dan beragam. Keempat teknologi pengolahan sampah tersebut adalah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) non-refuse derived fuel (RDF), TPST berbasis RDF, Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R), serta pengolahan sampah organik dari sumber atau tingkat masyarakat.

Sebagai informasi, keempat teknologi pengolahan sampah tersebut memiliki sistem kerja yang berbeda, diantaranya adalah:

  1. TPST Non-RDF, yaitu pengolahan sampah terpadu konvensional di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu tanpa konversi bahan bakar.
  2. TPST RDF, yaitu aktivitas mengubah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (bahan bakar terpilih) yang dapat dipakai industri atau energi khusus.
  3. TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yang memiliki fokus pada pengurangan, penggunaan ulang, dan daur ulang di tingkat komunitas atau industri lokal.
  4. Pengolahan sampah organik, yang merupakan intervensi langsung di sumber untuk menghasilkan kompos, biogas, atau produk lain.

Model kombinasi ini menunjukkan pendekatan pemerintah lebih holistik dibanding sekadar membakar sampah menjadi listrik, seperti daur ulang, pemisahan di sumber, hingga pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar industri atau energi alternatif.

Apa Bedanya Teknologi Tersebut?

Melansir dari Waste4Change, Selasa, 24 Februari 2026, keempat teknologi tersebut dapat dibedakan melalui:

  1. TPS (Tempat Penampungan Sementara) hanya berfungsi sebagai lokasi transit sampah sebelum diangkut ke fasilitas pengolahan. Pada tahapan ini, sudah tidak ada proses pengolahan yang akan dilakukan.
  2. TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) sudah melakukan pemilahan dan pengolahan sampah di tingkat komunitas. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan anorganik dipilah untuk didaur ulang. Fokus dari teknologi ini adalah  pengurangan sampah dari sumber yang tersedia.
  3. TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) memiliki sistem lebih lengkap dibanding TPS3R karena menggabungkan berbagai metode pengolahan dalam satu lokasi, termasuk daur ulang dan produksi bahan bakar alternatif, sehingga mampu mengurangi kiriman sampah ke TPA secara lebih besar.
  4. RDF (Refuse-Derived Fuel) bukan tempat penampungan, melainkan produk bahan bakar alternatif hasil olahan sampah bernilai tinggi seperti plastik dan kertas, yang biasanya diproduksi di TPS3R atau TPST.

Sementara itu, WtE adalah teknologi berskala besar yang mengubah sampah menjadi energi, seperti listrik atau panas, umumnya melalui proses termal. Teknologi ini ditujukan untuk mengolah residu sampah yang tidak bisa lagi didaur ulang.

Berdasarkan catatan tim Trenasia, beberapa kota di Indonesia telah berhasil menerapkan teknologi pengolahan sampah berbasis TPS3R maupun TPST. Kota-kota tersebut adalah:

1. Jagakarsa, Jakarta Selatan

Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dan bank sampah ini dikelola langsung oleh warga Jagakarsa. Inisiatif pemetaan pengolahan sampah tersebut digagas oleh Klub Baca Ibu (Klabu) dan Ruang Ibu Bercerita, sebagai bagian dari gerakan Ibu Darling (Ibu Sadar Lingkungan).

Warga setempat didorong untuk memilah sampah sejak dari sumber, mengelola sampah organik melalui komposter dan maggot, serta menyalurkan sampah anorganik ke bank sampah. Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai efektif karena melibatkan partisipasi langsung masyarakat di tingkat RT dan RW.

2. Banyuwangi

Masyarakat Banyuwangi melakukan proses pengolahan sampah melalui Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA BLE). Strategi pengelolaan sampah ini dimulai dari hulu yakni pemilahan sampah di sumber oleh masyarakat, dilanjutkan dengan tengah melalui pemrosesan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), dan berakhir di hilir di TPA BLE.

Aktivitas mengolah pupuk menjadi kompos. Sumber: freepik.com

Pendekatan tersebut berhasil mengubah sampah organik menjadi kompos dan magot (larva Black Soldier Fly) yang dapat digunakan sebagai pakan, sementara sampah anorganik diproses menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau paving dari residu yang tidak dapat diolah lagi.

3. Kota Kediri

Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, berhasil menjadi juara pada Zero Waste Academy 2026. Masyarakat di tempat tersebut konsisten menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) secara nyata.

Bank sampah di Mrican berperan sebagai tempat warga menyerahkan sampah yang telah dipilah, kemudian diolah atau dijual kembali melalui jalur usaha lokal. Pendekatan ini tidak hanya menekan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.