Dampak Ultra Processed Food dari Penerapan Program MBG
- Program MBG 2026 bernilai Rp335 triliun disorot pakar UGM karena penggunaan ultra processed food yang dinilai berisiko bagi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Program makanan bergizi gratis (MBG) yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia, memiliki dana sekitar Rp335 triliun dan ditargetkan diberikan kepada 82,9 juta penerima di tahun 2026. Target tersebut diselaraskan dengan upaya peningkatan kualitas layanan dan percepatan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.
Dalam satu tahun, MBG telah memicu banyak persoalan mulai dari kasus keracunan, perizinan SPPG, hingga penggunaan jenis bahan makanan yang tidak sesuai prosedur kesehatan.
Seperti yang diungkapkan oleh Dosen Departemen Gizi Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, yang menyoroti penggunaan ultra processed food (UPF) dalam menu MBG.
“Anak-anak diberi UPF, di situ ada natrium, gula tambahan, dan lemak. Dampaknya mungkin tidak terlihat sekarang, tapi 10–15 tahun ke depan akan menjadi bom waktu penyakit kronis,” ujarnya, dikutip pada Jumat, 9 Januari 2026.
Sebagai informasi, UPF merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan makanan yang diolah dengan tahapan pemrosesan industri, sehingga makanan tersebut diolah dengan bahan-bahan pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, pengawet, dan pengemulsi agar lebih tahan lama.
Dalam penelitian kesejahteraan global yang dikembangkan peneliti Harvard, kualitas pola makan menjadi salah satu elemen penting dalam menunjang kesehatan fisik, mental, dan produktivitas jangka panjang. Pola konsumsi yang didominasi ultra food dinilai berisiko menggerus aspek tersebut.
Jenis Produk yang Termasuk Kategori UPF
Berikut jenis produk yang dikategorikan sebagai UPF dan banyak beredar di kalangan masyarakat, hingga penerapan MBG:
- Makanan cepat saji
- Minuman berpemanis
- Makanan ringan kemasan
- Sosis, nugget, dan daging olahan
- Mi instan dan makanan siap panaskan
Risiko Kesehatan Akibat Konsumsi UPF
Melansir dari studi yang dipublikasikan PubMed, Jumat, 9 Januari 2026, konsumsi UPF secara berlebihan dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit, antara lain:
1. Obesitas dan kelebihan berat badan
Kandungan gula dan lemak tinggi dalam produk UPF, mampu memicu asupan kalori berlebih tanpa rasa kenyang yang optimal. Kondisi ini membuat masyarakat memiliki rasa lapar terus menerus, yang berakibat pada kenaikan berat badan (obesitas).
2. Diabetes tipe 2
Lonjakan gula darah akibat karbohidrat olahan dan pemanis tambahan meningkatkan resistensi insulin. Jika dibiarkan, kondisi ini memicu rasa lemas dan berisiko pada penyebaran penyakit kronis secara cepat.
3. Penyakit jantung dan pembuluh darah
Tingginya angka penggunaan garam, lemak trans, dan aditif berkontribusi pada tekanan darah tinggi serta kolesterol. Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap risiko kardiovaskular (jantung) dan menghambat kinerja dari pembuluh darah.
4. Gangguan kesehatan mental
Sejumlah riset mengaitkan konsumsi UPF dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan. Hal tersebut dikarenakan, banyaknya kandungan natrium dan gula secara berlebih, memicu terjadinya sugar rush yang berdampak pada kualitas waktu tidur serta penurunan tingkat konsentrasi.
5. Peningkatan hormon pada anak
Sebuah studi observasional pada anak dan remaja usia 6–19 tahun menemukan bahwa konsumsi UPF yang tinggi berkaitan dengan peningkatan kadar hormon androgen bebas (Free Androgen Index/FAI), khususnya pada remaja perempuan.
Konsumsi UPF yang lebih tinggi menunjukkan tingkat testosteron yang tersedia secara biologis lebih tinggi. Namun, temuan ini membutuhkan studi mendalam untuk memastikan bahwa temuan ini berpengaruh langsung terhadap penilaian asupan makanan secara tepat.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
