Tren Ekbis

Daftar Emiten yang Potensi Kecipratan Booming Data Center

  • Booming data center Indonesia membuka peluang bagi DCII, TLKM, ISAT, DSSA, DMAS, SSIA hingga PGEO. Simak prospek dan katalisnya.
1693801782796_compress_Foto.jpeg
Hyperscale Data Center (HDC) Telkom (Perseroan)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Ledakan kebutuhan pusat data (data center) di Indonesia mulai menciptakan peluang bisnis yang lebih luas dari sekadar operator infrastruktur teknologi.

Pertumbuhan pusat data turut membuka peluang bagi emiten teknologi, perusahaan kawasan industri, hingga perusahaan energi yang menyediakan lahan dan pasokan listrik untuk fasilitas tersebut.

Kapasitas data center Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan data Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) menunjukkan kapasitas nasional dapat meningkat dari sekitar 580 megawatt (MW) pada semester I-2026 menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada 2030.

Lonjakan tersebut didorong oleh pertumbuhan cloud computing, kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, kebutuhan penyimpanan data, serta ekspansi perusahaan teknologi global di Indonesia.

Kondisi tersebut menciptakan efek berantai, operator data center membutuhkan lahan dalam skala besar, sementara fasilitas tersebut membutuhkan listrik yang stabil selama 24 jam.

Dengan demikian, peluang dari booming data center tidak hanya dinikmati perusahaan seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII), tetapi juga emiten seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), hingga PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

Baca juga : Menguat Dalam, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?

Mengapa Bisnis Data Center Semakin Menarik di Indonesia?

Data center merupakan infrastruktur utama dalam ekonomi digital. Fasilitas ini digunakan untuk menyimpan, memproses, dan mendistribusikan data yang digunakan oleh berbagai layanan digital.

Pertumbuhan penggunaan AI membuat kebutuhan tersebut semakin besar. Tidak seperti pusat data konvensional, fasilitas yang digunakan untuk komputasi AI membutuhkan kapasitas listrik dan sistem pendinginan yang lebih besar. Artinya, pertumbuhan AI menciptakan permintaan baru terhadap data center, listrik, jaringan telekomunikasi, lahan, dan infrastruktur pendukung.

Kondisi tersebut membuat industri data center memiliki rantai bisnis yang panjang. Secara sederhana, rantai tersebut dapat digambarkan sebagai berikut,

AI dan cloud → data center → kebutuhan lahan → kebutuhan listrik → pembangunan infrastruktur.

Karena itu, investor di pasar modal dapat memperoleh eksposur terhadap pertumbuhan data center melalui sejumlah sektor berbeda. Sejumlah sektor industri berpotensi kebanjiran untung dari tren data center saat ini, diantaranya sebagai berikut,

1. Emiten Teknologi yang Paling Diuntungkan Data Center

Sektor teknologi menjadi penerima manfaat paling langsung karena perusahaan di sektor ini mengoperasikan atau memiliki kepemilikan dalam fasilitas data center.

Beberapa emiten yang memiliki eksposur besar adalah DCII, TLKM, ISAT, dan DSSA.

DCII menjadi emiten data center paling murni

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi salah satu emiten dengan eksposur paling langsung terhadap industri pusat data Indonesia. DCII saat ini memiliki kapasitas operasi sekitar 128 MW, sementara potensi kapasitas maksimal yang dikembangkan perusahaan mencapai lebih dari 2.000 MW.

Kinerja keuangannya juga menunjukkan pertumbuhan. Pada semester I-2026, pendapatan DCII mencapai sekitar Rp1,77 triliun, meningkat 10,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih perusahaan mencapai sekitar Rp732,5 miliar, tumbuh 9,7% secara tahunan. Dari sisi peringkat kredit, Fitch Ratings memberikan DCII peringkat AA-(idn) dengan prospek stabil.

DCII memiliki sejumlah proyek ekspansi besar, Pertama, H1 Campus Cibitung yang memiliki kapasitas awal sekitar 73 MW dan potensi pengembangan hingga 220 MW.

Kedua, H2 Campus Karawang dengan kapasitas awal sekitar 27 MW dan potensi kapasitas lebih dari 600 MW. Ketiga, H3 DC Park Sky Bintan yang memiliki potensi pengembangan hingga sekitar 1.000 MW.

Dengan pipeline tersebut, DCII memiliki ruang ekspansi yang jauh lebih besar dibandingkan kapasitas operasionalnya saat ini.

Namun, besarnya potensi pertumbuhan juga perlu diimbangi dengan perhatian terhadap valuasi saham. Rasio price-to-earnings (P/E) DCII yang disebut mencapai sekitar 493,7 kali menunjukkan saham tersebut diperdagangkan pada valuasi premium. Artinya, ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan bisnis perusahaan sudah sangat tinggi.

Baca juga : Respons Hype Data Center, PGEO Siap Geber Panas Bumi

TLKM mendapat eksposur melalui NeutraDC

Selain DCII, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga memiliki eksposur terhadap pertumbuhan data center melalui anak usahanya, NeutraDC. NeutraDC saat ini memiliki kapasitas sekitar 90,4 MW dan menargetkan kapasitas mencapai 300 MW pada 2030.

Salah satu katalis yang menjadi perhatian investor adalah potensi masuknya investor strategis ke NeutraDC. Divestasi sekitar 70% saham NeutraDC disebut berpotensi menghasilkan nilai transaksi sekitar US$1 miliar hingga US$1,5 miliar apabila terealisasi.

Masuknya operator global dapat memberikan tambahan modal, teknologi, sekaligus memperluas jaringan bisnis NeutraDC. Sejumlah analis pun memberikan rekomendasi BELI terhadap saham TLKM dengan target harga sekitar Rp3.500-Rp3.700 per saham.

ISAT punya eksposur ke hyperscale dan AI

PT Indosat Tbk (ISAT) juga mendapatkan manfaat dari pertumbuhan data center melalui sejumlah investasi dan kerja sama strategis. Indosat memiliki sekitar 25% saham BDx Indonesia, perusahaan yang mengoperasikan fasilitas edge data center sekitar 30 MW serta fasilitas hyperscale sebesar 72 MW di CGK4 Jatiluhur.

Eksposur Indosat terhadap bisnis AI juga berpotensi semakin besar melalui proyek Zankore, yang dikembangkan sebagai fasilitas AI Factory atau neocloud AI. ISAT berpotensi memiliki sekitar 30% kepemilikan dalam proyek tersebut.

Tahap pertama Zankore direncanakan memiliki kapasitas 200 MW di Batang dengan target mulai beroperasi pada semester I-2027. Dalam jangka panjang, proyek tersebut berpotensi dikembangkan hingga kapasitas sekitar 1 GW. Untuk saham ISAT, analis memberikan rekomendasi BELI dengan target harga sekitar Rp3.430 per saham.

DSSA membangun ekosistem AI terintegrasi

Eksposur berikutnya datang dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang berada di bawah Grup Sinar Mas. DSSA saat ini mengoperasikan sekitar 24 fasilitas edge dengan total kapasitas sekitar 10 MW.

Namun, strategi DSSA tidak berhenti pada pengoperasian data center. Perusahaan tengah membangun ekosistem infrastruktur AI secara terintegrasi yang mencakup pembangkit listrik, jaringan fiber optik, data center, hingga dataset pembayaran digital.

Strategi integrasi vertikal tersebut menjadi salah satu pembeda DSSA dibandingkan operator data center lainnya. DSSA juga menyiapkan fasilitas data center Tier IV yang dirancang untuk kebutuhan AI dengan kapasitas awal sekitar 18 MW dan dapat diperluas hingga 60 MW.

Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Pluang Sekuritas memberikan rekomendasi BELI untuk DSSA dengan target harga sekitar Rp1.145 per saham.

2. Emiten Properti Ikut Kecipratan Booming Data Center

Pertumbuhan data center juga menciptakan peluang bagi perusahaan properti, terutama pengembang kawasan industri. Data center membutuhkan lahan yang luas dengan karakteristik khusus. Selain lokasi, investor membutuhkan kepastian pasokan listrik, konektivitas fiber optik, akses jalan, dan ketersediaan infrastruktur pendukung.

Karena itu, kawasan industri yang memiliki infrastruktur lengkap menjadi lokasi favorit bagi pengembang data center. Sektor data center bahkan menjadi salah satu sektor yang paling aktif dalam akuisisi lahan pada awal 2026.

DMAS menjadi salah satu penerima manfaat utama

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menjadi salah satu emiten properti yang memiliki eksposur besar terhadap pertumbuhan data center. Di kawasan Kota Deltamas, permintaan lahan pada semester I-2026 mencapai sekitar 85 hektare.

Sekitar 75% permintaan tersebut atau sekitar 64 hektare berasal dari sektor data center. Tingginya permintaan tersebut ikut menopang marketing sales perusahaan.

Pada semester I-2026, marketing sales DMAS mencapai sekitar Rp1,15 triliun, setara 55% dari target tahunan sebesar Rp2,08 triliun. Pendapatan perusahaan juga melonjak hampir tiga kali lipat menjadi sekitar Rp1,8 triliun.

Besarnya permintaan dari data center membuat DMAS optimistis terhadap prospek kawasan industri hingga 2027. Investor yang masuk berasal dari Asia, Amerika Serikat, hingga investor domestik. Sejumlah analis memberikan rekomendasi BELI untuk DMAS dengan target harga sekitar Rp220-Rp230 per saham.

Baca juga : Siapkan Dividen Interim, Ini Rekam Jejak Dividen BMRI Sejak 2021

SSIA incar penjualan lahan data center

Emiten properti lainnya adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). SSIA menargetkan penjualan sekitar 10 hektare lahan untuk data center di Karawang hingga akhir 2026.

Selain Karawang, kawasan Subang Smartpolitan juga mulai menjadi lokasi yang dipertimbangkan oleh calon tenant data center. SSIA bahkan memiliki anak usaha yang mengikuti tender untuk menjadi kontraktor pembangunan proyek data center berskala besar.

Perusahaan menargetkan marketing sales dapat berada di sekitar 60 hektare pada 2027. Manajemen SSIA melihat perkembangan AI sebagai katalis penting yang dapat mendorong kebutuhan data center dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Emiten properti lain mulai masuk data center

Tren ini juga mendorong sejumlah pengembang properti lain untuk mulai mengembangkan bisnis terkait pusat data. PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) menyiapkan aksi right issue sekitar Rp4,4 triliun untuk mendukung ekspansi lahan di Surabaya dan Maja.

Sementara PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) mulai melakukan ekspansi ke bisnis data center pada 2026. Adapun PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) mengembangkan strategi transformasi dari pengembang perumahan menuju properti digital dan data center.

Masuknya perusahaan properti ke sektor tersebut menunjukkan bahwa data center mulai menjadi salah satu sumber permintaan baru bagi pasar lahan industri.

3. Emiten Energi Berpotensi Menjadi Pemenang Berikutnya

Jika data center membutuhkan lahan, maka kebutuhan berikutnya adalah listrik. Data center merupakan fasilitas yang harus beroperasi selama 24 jam. Gangguan pasokan listrik dapat mengakibatkan kerugian besar bagi operator maupun pelanggan.

Karena itu, pertumbuhan data center menciptakan peluang bagi perusahaan energi yang mampu menyediakan listrik dalam jumlah besar, stabil, dan semakin rendah emisi.

Biaya listrik sendiri dapat menyumbang sekitar 40%-60% dari biaya operasional data center. Kebutuhan tersebut semakin besar untuk fasilitas yang digunakan menjalankan AI.

PGEO incar pasar green data center

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menjadi salah satu emiten energi yang berpotensi mendapatkan manfaat dari tren tersebut.  PGEO tengah menyiapkan pasokan listrik baseload berbasis panas bumi untuk mendukung pengembangan green data center dan ekosistem AI di Indonesia.

Salah satu proyek awal berada di Area Kamojang, Jawa Barat. PGEO menargetkan kapasitas terpasang mencapai sekitar 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.

Panas bumi memiliki keunggulan karena dapat menghasilkan listrik secara relatif stabil selama 24 jam dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan pembangkit berbasis fosil.

Kebutuhan investasi untuk pengembangan pembangkit panas bumi khusus berkapasitas 5 MW diperkirakan mencapai sekitar US$19 juta.

Jika permintaan terhadap green data center meningkat, sumber energi terbarukan seperti panas bumi berpotensi menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik industri tersebut.

BREN dan Grup Barito ikut membidik peluang energi digital

Peluang data center juga mulai memengaruhi strategi bisnis Grup Barito. Kapitalisasi pasar sejumlah saham yang terafiliasi dengan Grup Barito disebut meningkat sekitar Rp58 triliun dalam satu pekan seiring meningkatnya perhatian investor terhadap kombinasi bisnis data center dan energi hijau.

Perubahan strategi tersebut menunjukkan adanya kecenderungan perusahaan energi untuk tidak hanya menjual listrik sebagai komoditas, tetapi juga mengintegrasikannya dengan infrastruktur digital bernilai tambah tinggi.

4. PLN Menjadi Pemain Kunci di Balik Ledakan Data Center

Meskipun PT PLN (Persero) bukan perusahaan terbuka, perannya sangat penting dalam perkembangan industri data center Indonesia. Setiap pembangunan data center berskala besar membutuhkan kepastian pasokan listrik dari PLN atau sumber energi alternatif.

PLN telah menandatangani nota kesepahaman dengan NeutraDC untuk mendukung penyediaan listrik bagi ekspansi data center di Cikarang hingga sekitar 200 MW. PLN juga mendukung komitmen pasokan daya untuk BDx Indonesia hingga sekitar 1,2 GW.

Sementara itu, kapasitas data center yang telah dikontrak PLN mencapai sekitar 274 MW pada semester I-2026, meningkat sekitar 47 MW dibandingkan akhir 2025. Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan data center secara langsung menciptakan permintaan baru terhadap listrik.