Tren Ekbis

Beda dari Gen X, Gen Z Agresif Investasi Termotivasi Medsos

  • Gen Z ubah wajah industri keuangan. Lebih dini dan agresif investasi, dominasi kripto, serta dipengaruhi media sosial seperti TikTok.
download (1).jpg
Investasi (LINE Bank)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Perilaku investasi Generasi Z mampu mengubah cara industri keuangan merancang produknya. Berbeda dari generasi sebelumnya, Gen Z berinvestasi lebih dini, lebih agresif, dan lebih terbuka pada aset non-konvensional seperti kripto.

Perubahan pola ini dinilai akan memengaruhi desain produk keuangan ke depan. Jika lembaga keuangan tidak beradaptasi, instrumen berkelanjutan berpotensi kalah bersaing dengan aset digital yang dianggap lebih transparan dan mudah diakses.

Survei global yang dipaparkan World Economic Forum menunjukkan sekitar sepertiga Gen Z mulai berinvestasi sejak masa kuliah atau awal usia dewasa. Angka ini dua kali lipat dibandingkan generasi Milenial atau bahkan Gen X pada usia yang sama. Artinya, eksposur terhadap pasar keuangan terjadi lebih cepat dalam siklus hidup mereka.

Dari sisi alokasi dana, rata-rata Gen Z menginvestasikan sekitar 9 persen dari pendapatan tahunannya, atau setara sekitar US$5.522 per tahun. Pola ini mencerminkan pendekatan yang lebih agresif sekaligus adaptif terhadap teknologi finansial.

Kemudahan akses aplikasi investasi, maraknya platform digital, serta paparan literasi keuangan di media sosial menjadi faktor yang mempercepat partisipasi mereka. Namun, karakter agresif ini juga berdampak pada preferensi aset yang dipilih.

Baca juga : Gen Z, Cek Ramalan Shio Kamu di Tahun Kuda Api 2026!

Dominasi Aset Digital

Dikutip laman World Economic Forum, Jumat, 13 Febriari 2026, berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengandalkan saham, obligasi, atau reksa dana, Gen Z menunjukkan kecenderungan kuat pada aset digital. Sebanyak 71 persen investor Gen Z memiliki porsi kripto lebih dari sepertiga total portofolionya.

Bahkan, hampir 20 persen investor Gen Z hanya memegang kripto tanpa aset tradisional lainnya. Data ini menegaskan bahwa kripto bukan lagi sekadar aset pelengkap, melainkan menjadi inti portofolio bagi sebagian generasi muda.

Fenomena ini menjadi juga tantangan tersendiri bagi produk ESG tradisional seperti saham hijau, obligasi hijau, atau sukuk berkelanjutan. Instrumen-instrumen tersebut kini harus bersaing dengan aset alternatif digital yang dinilai lebih cepat, fleksibel, dan transparan.

Bagi Gen Z, transparansi bukan sekadar laporan tahunan atau sertifikasi lembaga. Mereka terbiasa dengan sistem berbasis blockchain yang memungkinkan verifikasi langsung melalui data on-chain. Konsep audit protokol dan pelacakan transaksi menjadi bentuk kepercayaan baru yang berbeda dari pendekatan konvensional.

Isu kepercayaan menjadi faktor penting dalam keputusan investasi Gen Z. Sekitar 20 persen Gen Z yang belum berinvestasi mengaku tidak percaya pada institusi keuangan tradisional.

Bagi generasi ini, trust lebih dimaknai sebagai kemampuan untuk melakukan kontrol dan verifikasi mandiri, bukan sekadar keberadaan regulator atau logo otoritas seperti OJK di Indonesia atau FDA di Amerika Serikat.

Paradigma ini menunjukkan pergeseran makna legitimasi. Jika generasi sebelumnya mengandalkan institusi sebagai penjamin kredibilitas, Gen Z cenderung mengandalkan transparansi data dan teknologi sebagai sumber kepercayaan.

Baca juga : Berpotensi Picu Krisis Ekonomi, Apa Itu AI Bubble?

Implikasinya, produk ESG tidak cukup hanya mengandalkan label “hijau” atau sertifikasi keberlanjutan. Generasi muda menuntut akses data yang jelas, metrik dampak yang terukur, serta pelaporan yang dapat diverifikasi secara terbuka.

Pola konsumsi informasi Gen Z juga berbeda signifikan. Mereka tujuh kali lebih mungkin menggunakan TikTok untuk mencari saran keuangan dibandingkan generasi lain.

Platform seperti TikTok menjadi ruang edukasi sekaligus promosi produk finansial. Influencer keuangan dan konten video singkat memainkan peran besar dalam membentuk persepsi investasi.

Dengan kekuatan demografis dan potensi transfer kekayaan besar dalam dua dekade mendatang, Gen Z berpotensi menjadi penentu arah arsitektur pasar keuangan global.