1 Juta Ha Lahan untuk Genjot Bioetanol dari Tebu dan Singkong
- Indonesia menargetkan E20 pada 2029. Kebutuhan bioetanol diproyeksikan 1,4 juta KL, sementara kapasitas produksi saat ini baru 70.000–100.000 KL.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pemerintah terus mendorong pengembangan bioetanol berbasis komoditas pertanian seperti tebu, singkong, dan jagung sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Program tersebut disiapkan untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 9 September 2026, produksi tebu nasional mencapai 39,1 juta ton. Sementara itu, produksi singkong tercatat 16,4 juta ton dan jagung mencapai 16,2 juta ton.
Ketiga komoditas tersebut menjadi sumber bahan baku yang dapat dikembangkan untuk produksi bioetanol di dalam negeri. Pemerintah kemudian menyiapkan peningkatan kadar campuran bioetanol dalam BBM secara bertahap.
Penerapan bioetanol dalam BBM dilakukan melalui sejumlah tahapan. Pada 2026, pemerintah menargetkan penerapan E5, yakni BBM dengan campuran 5% bioetanol dan 95% bensin.
Selanjutnya, kadar campuran ditingkatkan menjadi E10 pada 2027, sebelum ditargetkan mencapai E20 pada 2029. Artinya, pada tahap E20, setiap 100 bagian BBM akan mengandung sekitar 20 bagian bioetanol.
Peningkatan kadar campuran tersebut akan membuat kebutuhan bioetanol nasional ikut meningkat signifikan. Pada tahap E5, kebutuhan bioetanol diperkirakan mencapai sekitar 333.000 kiloliter (KL) per tahun.
Ketika masuk E10, kebutuhan meningkat menjadi 681.000 KL per tahun. Sementara pada tahap E20, kebutuhan bioetanol diproyeksikan mencapai sekitar 1,4 juta KL per tahun.
Persoalannya, kapasitas produksi bioetanol nasional saat ini masih berada di kisaran 70.000–100.000 KL per tahun. Dengan demikian, terdapat kesenjangan besar antara kapasitas produksi yang tersedia dan kebutuhan apabila target pencampuran bioetanol terus ditingkatkan.
Baca juga : Menilik Dampak Megaproyek AI Factory 1 GW di Batang
Siapkan Lahan 1 Juta Hektare
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku sekaligus mengejar target produksi bioetanol, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya adalah penyediaan lahan baru hingga 1 juta hektare untuk pengembangan tanaman tebu dan singkong.
Pemerintah juga melakukan pemetaan terhadap potensi lahan, komoditas dan kesiapan daerah. Program tersebut melibatkan 44 kementerian dan lembaga, mengingat pengembangan bioetanol tidak hanya berkaitan dengan sektor energi, tetapi juga pertanian, industri, investasi, hingga pembangunan daerah.
Selain perusahaan, masyarakat juga akan dilibatkan dalam penyediaan bahan baku melalui skema kemitraan. Petani tebu, singkong dan jagung diharapkan dapat menjadi bagian dari rantai pasok bioetanol nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada pengembangan bioetanol sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian energi.
"Sekarang kita masuk ke bioetanol. Mimpi besar untuk kita adalah setiap pulau mandiri pangan dan mandiri energi," ujar Amran, dalam keterangannya, dikutip Antara, 23 September 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat bioetanol sebagai bahan bakar alternatif, tetapi juga sebagai bagian dari strategi mengintegrasikan sektor pertanian dan energi.
Dengan memanfaatkan komoditas lokal sebagai bahan baku, pengembangan bioetanol diharapkan dapat menciptakan permintaan baru terhadap hasil pertanian sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di daerah.
Baca juga : Marak Rokok Murah dan Ilegal, Pakar Soroti Arah Kebijakan Cukai
Kapasitas Produksi Jadi Tantangan
Target E20 pada 2029 membuat kebutuhan peningkatan kapasitas produksi menjadi salah satu tantangan utama. Jika kapasitas saat ini masih berada pada kisaran 70.000–100.000 KL per tahun, maka industri bioetanol harus meningkatkan produksinya berkali-kali lipat untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,4 juta KL per tahun.
Kesenjangan tersebut tidak hanya membutuhkan pembangunan pabrik bioetanol baru, tetapi juga kepastian pasokan bahan baku. Ketersediaan tebu, singkong dan jagung harus mampu mengikuti peningkatan permintaan dari industri energi.
Selain itu, pembangunan fasilitas pengolahan, distribusi bioetanol dan infrastruktur pencampuran BBM juga menjadi bagian penting dalam penerapan program tersebut.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, tebu, singkong dan jagung tidak hanya menjadi komoditas pangan dan pertanian, tetapi juga semakin berperan sebagai bahan baku energi untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.

Chrisna Chanis Cara
Editor
