Pemerintah Tarik Utang, Cadangan Devisa Mei Melejit US$2,6 Miliar
JAKARTA – Penarikan utang pemerintah dan penempatan valuta asing perbankan membuat cadangan devisa (cadev) per Mei 2020 melejit US$2,6 miliar setara Rp36,2 triliun (kurs Rp13.956 per dolar Amerika Serikat) menjadi US$130,5 miliar setara Rp1.821 triliun. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko mengatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,3 impor atau 8 […]

Aprilia Ciptaning
Author


Karyawan menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu Bank BUMN di Jakarta, Selasa 2 Juni 2020. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat cukup signifikan pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 195 poin atau 1,33 persen ke level Rp14.415 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,039 poin atau 0,04 persen ke level 97,869 pada pukul 14.53 WIB. New Normal yang akan diberlakukan secara bertahap dianggap menjadi sentimen positif terhadap pergerakan pasar saat ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Penarikan utang pemerintah dan penempatan valuta asing perbankan membuat cadangan devisa (cadev) per Mei 2020 melejit US$2,6 miliar setara Rp36,2 triliun (kurs Rp13.956 per dolar Amerika Serikat) menjadi US$130,5 miliar setara Rp1.821 triliun.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko mengatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,3 impor atau 8 bulan impor, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Selain itu, angka ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” ujarnya dalam siaran pers, Senin, 8 Juni 2020.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
- Anies Baswedan Tunggu Titah Jokowi untuk Tarik Rem Darurat hingga Lockdown
- IPO Akhir Juni 2021, Era Graharealty Dapat Kode Saham IPAC
Cadangan devisa tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir April 2020 sebesar US$127,9 miliar. Menurut Onny, posisi ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta dapat menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.
Terjadinya peningkatan cadangan devisa tersebut, lanjutnya, terutama dipengaruhi oleh penarikan utang luar negeri pemerintah dan penempatan valas perbankan di BI.
Sebagai informasi, pemerintah telah menerbitkan tiga seri Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) senilai US$4,3 miliar atau setara Rp69 triliun hingga akhir April 2020. Kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan cadangan devisa.
Cadangan devisa memang terus merosot sejak awal tahun dari US$131,7 miliar pada Januari 2020. Kemudian pada Februari mencapai US$130,4 miliar, dan turun lagi menjadi US$121 miliar pada Maret.
Namun, pada akhir April 2020, cadangan devisa melejit menjadi US$127,9 miliar atau setara Rp1.918 triliun. Kemudian, meningkat lagi menjadi US$130,5 miliar pada akhir Mei 2020.
“Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik,” tambah Onny.
Cadangan devisa sempat terus tertekan lantaran nilai tukar rupiah yang kian amblas bahkan ke level terendah Rp16.625 pada Maret 2020. Namun, per Senin, 8 Juni 2020, kurs tengah Bank Indonesia menempatkan rupiah pada level Rp13.956 per dolar AS. (SKO)
