Nasional

LPEM UI: PDB Indonesia Bisa Tumbuh Sekitar 5 Persen, Kembali ke Level Pra-pandemi

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi membaik ke level 5% didorong berbagai faktor seperti neraca perdagangan yang surplus.
Pertumbuhan Ekonomi .jpg
Karyawan melayani calon pembeli di tenant salah satu pusat perbelanjaan kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 1 Maret 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (Istimewa)

JAKARTA - Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh sekitar 5% pada 2022.

Perkiraan itu berkaca kepada pertumbuhan aktivitas ekonomi di kuartal I-2022 yang berlangsung di tengah berbagai tantangan baik dalam lingkup domestik maupun mancanegara. Menurut Teuku, pertumbuhan PDB di kuartal I-2022 diestimasi berkisar antara 4,75% hingga 4,95%.

"Terlepas dari berbagai tantangan, kami masih berpandangan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2022 akan kembali ke level pra-pandemi di kisaran 5%," ujar Teuku dikutip dari laporan Indonesia Economic Outlook, Jumat, 6 Mei 2022.

Teuku menyampaikan, meskipun ada disrupsi akibat kemunculan virus COVID-19 varian Omicron, performa neraca perdagangan di kuartal I-2022 terbilang cukup baik.

Daya beli masyarakat yang pada 2021 sempat tertahan oleh lonjakan kasus COVID-19 mulai meningkat seiring dengan mobilitas masyarakat dan aktivitas produksi yang berangsur normal.

Lonjakan harga komoditas yang dipicu oleh konflik Rusia-Ukraina pun pada gilirannya dapat berdampak positif terhadap neraca perdagangan Indonesia yang menjadi salah satu negara produsen utama batu bara dan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

Akibat kenaikan tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada kuartal I-2022 mengalami surplus sebesar US$9,33 miliar atau setara dengan Rp135,09 triliun dalam asumsi kurs Rp14.480 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Surplus tersebut lebih tinggi 20% year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Surplus ini didorong oleh harga komoditas, terutama batu bara dan CPO," papar Teuku.

Sektor transportasi, pergudangan, akomodasi, serta makanan dan minuman yang paling terdampak saat pandemi pun sudah mengalami pertumbuhan pada kuartal akhir 2021 karena penanganan pandemi yang cukup baik.

Meski demikian, indeks harga produsen telah tumbuh 8,77% yoy dan melampaui pertumbuhan sebesar 2,64% yoy pada Maret 2022 sehingga mengindikasikan adanya inflasi.

Faktor pull dari permintaan telah memicu naiknya daya beli seiring dengan peningkatan aktivitas produksi, mobilitas, dan pecahnya pent-up demand atau peningkatan pesat dalam permintaan sementara faktor push dari peningkatan harga pun menekan daya beli masyarakat.

"Peningkatan harga energi juga memberikan tekanan pada sisi fiskal. Estimasi kami mengindikasikan kenaikan harga energi akan meningkatkan belanja subsidi dari Rp207 triliun ke Rp314,4 triliun di 2022," ucap Teuku.

Menurut Teuku, tekanan inflasi yang meningkat selama tahun 2022 mendorong kebutuhan koordinasi yang lebih kuat antara Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).