Menilik Perjalanan Penyehatan Keuangan Waskita Karya (WSKT) Hingga Semester I-2022
- PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dalam empat tahun terakhir mengalami kerugian hingga triliun. Ada banyak faktor yang diklaim perseroan sebagai penyebab kerugian jumbo yang dialami perseroan.

Liza Zahara
Author


Gedung Waskita Heritage dikawasan MT Haryono, Jakarta Selatan. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA - Emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dalam empat tahun terakhir mengalami kerugian hingga triliunan rupiah. Ada banyak faktor yang diklaim perseroan sebagai penyebab kerugian jumbo yang dialami perseroan.
Dilansir dari laporan keuangan empat tahun terakhir yakni dari 2019 hingga 2022, perjalanan Waskita Karya hingga mengalami rugi terjadi secara perlahan sejak 2019 saat pandemi COVID-19 mulai melanda di Indonesia.
Apabila ditilik dari 2018 secara tahunan (year on year/yoy), Waskita Karya masih meraup untung baik dari pendapatan maupun laba bersih masing-masing mencapai Rp48 triliun dan Rp4,61 triliun.
- Pertamina Buka Suara Usai Gaduh Beli Pertalite Pakai MyPertamina pada 1 Agustus 2022
- Mantan Kapolri Timur Pradopo Undur Diri dari Komisaris Pollux Hotels (POLI)
- Anak Usaha PT Pos Indonesia Buka Loker Staf, Job Seeker Merapat!
Sedangkan pada 2019 kinerja Waskita Karya mulai terlihat menurun dengan mencatat pendapatan sebesar Rp31,38 triliun dan laba bersih sebesar Rp1,02 triliun.
Penurunan tersebut masih berlanjut hingga 2020 di mana pendapatan usaha mengalami penyusutan menjadi Rp16,19 triliun atau turun 41,58%. Setali tiga uang, bukannya untung, perseroan mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan sebesar Rp7,35 triliun pada 2020.
Corporate Secretary Waskita Karya Novianto Ari Nugroho mengatakan kerugian tersebut dikarenakan adanya lonjakan pinjaman untuk investasi jalan tol. Adapun beban pinjaman yang ditanggung perseroan pada 2020 sebesar Rp4,74 triliun, di tengah bertambahnya jumlah ruas tol milik perseroan yang telah beroperasi.
Faktor lainnya datang dari penurunan produktivitas proyek serta beban operasi yang terbilang besar akibat pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu.
Kerugian pada 2020 juga diperparah dengan terungkapnya kasus korupsi proyek fiktif yang dilakukan oleh lima tersangka yang sebelumnya menjabat di Waskita Karya. Kerugian akibat kasus korupsi pada 2020 tersebut ditaksir mencapai Rp202 miliar.
Tekanan demi tekanan tersebut mempengaruhi kinerja perseroan yang semakin lama semakin turun dan mengkhawatirkan.
Hingga 31 Desember 2021, perseroan masih mencatat kerugian meski telah terlihat perbaikan. Per Desember 2021, rugi Waskita berkurang menjadi Rp1,09 triliun atau menyusut hingga 79,87% dari sebelumnya.
Sedangkan pendapatan Waskita Karya masih belum normal dan stabil seperti di tahun-tahun sebelumnya. Tercatat hingga 2021 pendapatan perseroan hanya sebesar Rp12,22 triliun.
8 Stream Penyehatan Keuangan Waskita
Ada delapan strategi yang digaris bawahi sebagai penyehatan keuangan perseroan. Antara lain proses restrukturisasi induk dan anak usaha, penjaminan pemerintah, Penyertaan Modal Negara (PMN) dan rights issue, penyelesaian konstruksi jalan tol, divestasi jalan tol, transformasi bisnis, implementasi GCG serta manajemen risiko.
Nyatanya restrukturisasi yang dilakukan perseroan membuahkan hasil dengan melihat kerugian Waskita Karya yang sempat berkurang sepanjang 2021 menjadi Rp1,09 triliun atau menyusut hingga 79,87%.
Rugi perseroan kembali susut menjadi Rp236,51 miliar per semester I-2022, walaupun lebih tinggi dibanding Rp154,13 miliar pada periode Juni 2021.
- Pertamina Buka Suara Usai Gaduh Beli Pertalite Pakai MyPertamina pada 1 Agustus 2022
- Mantan Kapolri Timur Pradopo Undur Diri dari Komisaris Pollux Hotels (POLI)
- Anak Usaha PT Pos Indonesia Buka Loker Staf, Job Seeker Merapat!
Restrukturisasi yang dilakukan perseroan juga mulai berbuah hasil, yang terlihat dari pendapatan Waskita Karya yang naik dari sebelumnya Rp4,71 triliun pada 2021 menjadi Rp6,09 triliun pada semester I-2022.
Perolehan tersebut memang belum bisa dikatakan baik apabila dibandingkan dengan pendapatan Waskita Karya sebelum terjadinya pandemi.
Soal kenaikan pendapatan di semester I-2022, perseroan meyakini hal itu disokong oleh penyerapan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) yang lebih besar.
Kemudian melakukan strategic partnership dengan PT Sarana Multi Infrastruktur dengan mengambil alih kepemilikan saham. Aksi tersebut mampu membuat total liabilitas perseroan turun hingga 12,40% dari Rp88,14 triliun menjadi Rp77,21 triliun.
"Pada semester kedua tahun ini nantinya perseroan akan berfokus pada bisnis operasional terutama melalui penyerapan dana PMN untuk menyelesaikan proyek eksisting perseroan," kata Corporate Secretary Waskita Karya Novianto Ari Nugroho, dikutip dari keterangan resmi, Selasa, 2 Agustus 2022.
Jalan Tol Terjual
Salah satu upaya penyehatan keuangan Waskita Karya adalah melalui pelepasan atau divestasi pada beberapa ruas tol yang dimiliki perseroan.
Perseroan telah menjual empat ruas jalan tol dari target lima ruas hingga Oktober 2021 senilai Rp8 triliun. Empat ruas jalan tol tersebut yakni Jalan Tol Medan-Kualanamu Tebing Tinggi (JMKT) dengan nilai investasi Rp4 triliun.
Kemudian, Semarang-Batang sebesar Rp11 triliun, Cinere-Serpong Rp2,22 triliun, dan Cibitung-Cilincing sebesar Rp4,22 triliun.
Sedangan untuk tahun ini perseroan menargetkan pelepasan lima ruas jalan tol dengan nilai investasi Rp2,98 triliun.
Lima ruas jalan tol tersebut yakni Tol Kanci-Pejagan, Tol Pejagan-Pemalang, Tol Pasuruan-Probolinggo, Pemalang-Batang, dan Tol Cimanggis-Cibitung.
"Semester kedua tahun ini, perseroan optimis bisa menyelesaikan rangkaian transasksi atas tiga ruas tol melalui strategic partnership. Aksi korporasi ini akan memberikan dampak penurunan utang lewat dekonsolidasian utang yang berdampak pada penurunan beban keuangan," katanya.
Butuh Nafas Panjang
Kesehatan keuangan operator jalan tol sangat tergantung dari keekonomian masing-masing wilayah mengingat bisnis tol memiliki karakter jangka panjang.
BUMN PT Hutama Karya (Persero) misalnya, pernah mengakui “ngos-ngosan” saat mendapat penugasan untuk membangun jalan tol Trans Sumatra. Dirut PT Hutama Karya (Persero) kala itu, Bintang Perbowo mengatakan dibanding tol JORR yang bisa BEP (break even point) atau balik modal jauh lebih cepat, jalan tol Trans Sumatra kecil nilai keekonomiannya.
“Memang bisnis ini bisnis jangka panjang sih, 20-25 tahun. Investasinya besar di awal. Begitu jalan tol ini dibuka, bukan malah untung, malah bertambah. Kalau Jakarta sekitarnya enak orang berburu jalan tol, nah kalau di Aceh, Medan, Palembang sekitarnya ini jalan gedenya aja sepi?,” kata Bintang.
Senada, Astra Infra yang memiliki beberapa ruas jalan tol juga mengakui dalam berbisnis jalan tol harus memiliki nafas panjang. Pasalnya dalam 5-8 tahun pertama, dipastikan cashflow masih minus lantaran investasi yang digelontorkan untuk membangun dan mengoperasikan jalan tol pada tahap-tahap awal. Barulah secara perlahan perusahaan bisa menuai pendapatan yang diharapkan akan positif selama masa konsesi sekitar 30-40 tahun.

Yosi Winosa
Editor
