Kolom & Foto

Ironi Hidup dalam Tsunami Informasi

  • Di tengah banjir informasi, manusia kian sulit membedakan kebenaran dan kepalsuan, serta tanpa sadar berubah menjadi korban peradaban digitalnya sendiri.
Photo by cottonbro studio: https://www.pexels.com/photo/a-woman-looking-afar-5473955/
Ilustrasi kecerdasan buatan. (Pexels / Cottonbro Studio)

Tsunami informasi, tak ubahnya gambaran yang dihadirkan lewat cerita dalam film yang sedang ditayangkan Netflix. Judulnya: “The Great Flood”. Film yang diproduksi tahun 2025 ini, karya Sutradara Kim Byung-woo dengan dibintangi oleh Kim Da-mi serta Park Hae-soo. Kisahnya memang tentang banjir --sesuai judulnya-- namun lantaran volume airnya sangat besar, Tsunami lebih tepat untuk menyebut bencananya. Pemicunya, tabrakan asteroid yang membobol kantong-kantong penyimpan air di bumi. Menumpahkan isi laut, danau, sungai, bahkan sumber air yang ada di bawah tanah. Menghempas dan merendam apa pun, bahkan apartemen-apartemen puluhan lantai yang menjulang, mencakar langit. Karenanya, kehebohan penyelamatan diri manusia yang dipertontonkan, tampak sekadar upaya menunda kematian. Alih-alih ada manusia yang bakal bertahan, menyaksikan berakhirnya kehidupan hanya soal waktu. Banjir melanda seluruh dunia, namun pusat penceritaannya di Seoul, Ibukota Korea Selatan. 

Dan walaupun tak ditunjukkan dalam cerita, bencana macam itu diduga sering terjadi. Karenanya, otoritas penguasa mengembangkan teknologi berbasis artificial intelligence (AI). Tujuannnya, mencegah kepunahan manusia akibat bencana yang terus melanda. Bumi tak sesuai lagi jadi tempat hidup, penghuninya harus pindah ke tempat lain. Dan di tempat lain itu, manusia tetap jadi penghuni utamanya. Untuk memenuhi keperluannya, dilakukan penelitian pengembangkan manusia berbasis AI. Manusia dengan keadaan fisik maupun mental yang terseleksi. Salah penelitinya adalah Gu An-na.

Perempuan ini, spesialis menciptakan emosi tiruan. Lewat penelitiannya, dihasilkan Shin Ja-in. Sosok anak laki-laki artificial, yang relasinya digambarkan sebagai anak kandung Gu An-na. Dalam proses menjalani kehidupan normal --yang merupakan skenario tahap penelitian— tabrakan asteroid terjadi. Upaya menyelamatkan Shin Ja-in oleh Ibunya Gu An-na jadi cerita heroik sepanjang film. Shin Ja-in jadi harapan terakhir penerus umat manusia di tempat yang baru. Karenanya harus diselamatkan. Setidaknya, menyelamatkan memori emosinya.

Tsunami dalam realitasnya memang mengubah kehidupan, tersisa ampas. Jika pun ada yang selamat, peradabannya yang berubah drastis. Luka fisik dan batin yang tak gampang disembuhkan, malih rupa jadi trauma. Manusia dengan trauma inilah, yang jadi penghuni peradaban baru. Maka pada Tsunami informasi, gambarannya tak jauh berbeda. Peradaban juga berubah drastis. Jika pun masih ada yang bertahan, manusia penghuninya yang bakal berubah. Nantinya, manusia ini akan mengubah peradaban jadi baru. Hanya yang berbeda: manusia tak sadar, dirinya telah diubah. Alih-alih sadar, telah jadi korbannya. Distopiakah akhir Tsunami informasi? 

Tsunami informasi, sering jadi sebutan populer untuk menggambarkan luapan tak terhingga produksi, distribusi --yang kemudian mempengaruhi konsumsi-- data, informasi dan pengetahuan. Relasinya: data adalah informasi yang belum mempunyai makna, sedangkan informasi merupakan pembentuk pengetahuan. Ketiganya lazim disebut sebagai informasi. Tsunami itu, terjadi seiring makin intensifnya pemanfaatan teknologi informasi pada peradaban hari ini. Sebutan hiperbola ini, jarang dipikirkan secara mendalam. Karenanya, tak membentuk makna pada kesadaran umat manusia. Dengan tujuan membentuk makna yang dalam itu, sebutan hiperbola itu disematkan. Menyadarkan: informasi yang tak terhingga, telah mengubah manusia. Namun apakah seluruhnya sesuai dengan kehendak sadarnya? 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, dapat didekati lewat pemahaman soal produksi data global. Volumenya terus berlipat. Darinya, dapat diinterpretasikan keadaan yang sedang dialami umat manusia. Nyatanya, pengalaman dengan Tsunami informasi itu, memang jarang dipikirkan. David Jenkin, 2025, dalam “How Much Data Is Created Every Day: Key Insights & Trends”menyebut: tak kurang dari 181 ZB data  --angka 18 yang diikuti 21 angka nol di belakangnya— akan dihasilkan di tahun 2025. Frase ‘akan’ digunakan Jenkin, lantaran saat menguraikan pandangannya, tahun 2025 belum berakhir. Pandangan Jenkin senada dengan uraian Kevin Bartley, 2025, dalam “Big Data Statistics: How Musc Data is There in The Word?”yang mengutip Statista

Dalam uraiannya Jenkin menyebut: volume data itu, dihasilkan oleh 55-60 miliar perangkat IoT --internet of things– yang menghasilkan sedikitnya 50% dari seluruh data baru global. Sedangkan sisanya, terproduksi oleh interaksi tiap menit dari miliaran e-mail, media sosial, pembacaan berbagai sensor, streaming audio maupun video, penggunaan searching engine. Seluruhnya jika dirata-rata harian, jumlahnya tak kurang dari 1,45 triliun GB data. Dan dengan memperhitungkan berlakunya Hukum Moore –yang menyebut: penyimpanan berbasis digital, kapasitasnya bertambah dengan biaya yang lebih murah dan kecepatannya makin laju setiap tahun-- volume data berlipat ganda setiap 3 tahun.

Hitungan-hitungan di atas, adalah jumlah data hingga akhir tahun 2025 oleh seluruh umat manusia. Artinya, bukan masing-masing manusia terpengaruh oleh hempasan data dalam jumlah sebesar itu. Ada volume informasi, yang benar-benar mempengaruhi masing-masing manusia. Sayangnya, tak tersedia data terbarunya. Namun, Richard Alleyne dan Richardalleyne, 2011, lewat tulisannya berjudul “Welcome to the Information Age – 174 Newspapers a Day”mencoba merperkirakan jumlah data yang mempengaruhi setiap manusia. Disebutkannya: berdasar survei 60 kategori teknologi analog dan digital, yang dilakukan dalam kurun waktu 1986 hingga 2007 --dengan menggunakan analogi surat kabar setebal 85 halaman—umat manusia pada tahun 2007, mengkonsumsi data yang setara dengan 174 eksemplar surat kabar. 

Saat itu sumber datanya internet, televisi 24 jam, dan telepon seluler. Dengan jumlah konsumsi data sebesar itu di tahun 2000-an, umat manusia tak diragukan telah berada di era informasi. Lalu berapa jumlah informasi yang dikonsumsi pada hari ini --19 tahun kemudian-- dengan keberadaan fasilitas user generated content, audio dan video streaming, berbagai macam aplikasi pemudah hidup, sosial media, perbelanjaan, dan artificial intelligence? Tentu jumlahnya berllipat ganda secara eksponensial, dengan kehadiran perangkat digital yang tak dibicarakan di tahun 2011, dalam tulisan itu.

Tentu seluruhnya berimplikasi bagi umat manusia. Dan analog dengan realitas Tsunami --yang pada keadaan itu-- eksistensi manusia terombang-ambing terhempas arus. Hanya ada satu pikiran: keselamatan dirinya. Dan jika pun tak mungkin selamat, hidupnya harus berakhir dengan penderitaan yang paling ringan. Pada Tsunami informasi, manusia juga terombang ambing. Terhempas ketakpastian kebenaran. Pada suatu keadaan, kebenaran tampil dengan wajah yang saling berhadapan. Ini misalnya, yang baru saja terjadi: apa kebenaran hakiki dari penanganan Bencana Sumatera? Versi kebenaran yang menyebut ‘tertangani baik’ sama kuatnya dengan versi yang menyebut ‘tak tertangani dengan baik’. Masing-masing versi dilengkapi bukti yang layak dipercaya kebenarannya. Seluruhnya dapat diterima, lantaran ada acuan realitasnya. Tak mudah hidup dalam dualitas kebenaran macam ini. 

Namun bukan itu malapetaka terbesarnya. Pada Tsunami informasi, dunia yang dihayati umat manusia jadi sulit dipercaya. Bukan lantaran perbedaan versi yang sama kuatnya, namun realita yang hadir dalam keadaan asli tapi palsu. Keadaan ini disumbangkan oleh formulasi AI yang disebut deepfake. Formulasi ini mampu menghadirkan gambar, suara, video dengan gerak tubuh, mimik wajah, intonasi dan berbagai atribut biometrik yang kompleks. Perkembangannya, makin tak mudah dikenali panca indera. Sayang perkembangannya, makin marak dimanfaatkan dunia manipulasi.

Jika pada periode awal euforia pemanfaatan AI, gambaran manusia yang dihasilkan dengan mudah dikenali dari ketakwajaran visualisasinya: jari tangan yang lebih atau kurang, wajah yang kelewat sempurna, suara yang terlalu merdu, atau gerak tubuh yang sangat teratur. Hari ini, semuanya telah direduksi. Kalau pun ada yang tampil tak sesuai, lantaran deskripsi prompt penggunanya terlewat. Teknologinya makin sempurna, namun tak seluruh isi pikiran penggunanya tuntas terartikulasi. Dari keadaan ini, tak tertutup pengembangan sistem AI yang mampu menghasilkan prompt. Prompt untuk memproduksi prompt. Dunia jadi makin sulit dipercaya. Karena tiruannya hadir makin sempurna.

Akibat umat manusia terjangkiti kesulitan menentukan kebenaran, sulit pula menentukan tindakan kompleksnya. Gamang untuk melanjutkan hidup. Demikian juga ketika dunia makin sulit dipercaya, muncul rasa was-was berkesinambungan. Layaknya Tsunami alamiah: hidup setiap saat dapat direnggut. Pada Tsunami informasi, setiap saat manusia dapat tertipu. Bukankah itu penderitaan yang tak kalah dahsyatnya? Hidup tanpa pijakan apa pun. Jika demikian, mungkin hanya satu yang tetap harus melekat dalam pikiran: keselamatan diri, agar tak tertipu. Kalau pun masih tak terselamatkan, setidaknya dengan penderitaan yang paling ringan. Ironis, ketika seluruhnya itu tak disadari.

 

Tulisan opini oleh:

Dr. Firman Kurniawan S.

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital

Pendiri LITEROS.org